Selasa, 09 Agustus 2011

CARA BERTAUBAT DARI PERBUATAN ZINA

Ada pemuda-pemudi melakukan zina beberapa waktu yang lalu. Keduanya ingin bertaubat. Pertanyaan:

a. Bagaimana taubatnya?

b. Haruskah keduanya menikah?

c. Bagaimana kalau orang tua wanita tetap tidak setuju?

d. Bagaimana nanti status anak keduanya?

Mohon bantuannya supaya mereka berdua dapat kembali ke jalan yang benar.

 

 

jawaban:

 

 

Cara Taubatnya

 

Keduanya bertaubat kepada Allah dengan taubat nasuha yaitu dengan memenuhi tiga syarat taubat yang disebutkan oleh para ulama. Tiga syarat ini disimpulkan oleh para ulama dari Al-Qur’an dan As-Sunnah.

 

Pertama, Keduanya harus menyesali perbuatan tersebut. Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:

 

النَّدَمُ تَوْبَةٌ

 

“Sesungguhnya penyesalan itu adalah taubat.”1

 

Karena itu hendaklah keduanya menyesali apa yang telah mereka lakukan.

 

Kedua, melepaskan diri dan menjauhkan diri sejauh-jauhnya dari perbuatan yang seperti itu. Tidak lagi mengulangi maupun mendekati apa-apa yang akan menyeret dan mengantar kepada perzinaan, seperti pergaulan bebas dengan wanita (pacaran), berbincang-bincang secara bebas dengan wanita yang bukan mahram, bercengkerama, ikhtilath/ bercampurbaur. Semuanya adalah perkara yang diharamkan syariat untuk menutupi pintu perzinaan. Hendaknya keduanya menjauhkan diri dari itu semua.

 

Ketiga, kemudian keduanya ber-’azam/ bertekad kuat untuk tidak mengulangi kembali perbuatannya tersebut. Juga beristighfar kepada Allah, memohon ampunan-Nya. Dalam hal ini ada hadits Abu Bakr Ash-Shiddiq tentang disyariatkannya seseorang yang telah melakukan perbuatan maksiat untuk shalat dua rakaat lalu memohon ampunan kepada Allah.2

 

 

Haruskah Keduanya Menikah?

 

 

Keduanya tidak harus menikah. Namun tidak mengapa keduanya menikah dengan syarat: apabila wanita yang telah dizinai tersebut hamil karena perzinaan itu, maka tidak boleh menikahinya pada masa wanita itu masih hamil. Mereka harus menunggu sampai si wanita melahirkan bayinya, baru boleh menikahinya. Inilah pendapat yang benar yang disebutkan oleh ulama, yaitu bahwa wanita yang hamil karena perzinaan tidak boleh dinikahi sampai melahirkan. Karena di sana ada dalil yang menuntut adanya istibra` ar-rahim (pembebasan rahim) dari bibit seseorang. Karena itu rahim harus dibebaskan terlebih dahulu dengan cara menunggu sampai lahir, sehingga rahimnya bebas tidak ada lagi bibit di dalamnya. Setelah itu baru bisa menikahinya. Itu pun apabila keduanya bertaubat dari perzinaan.

 

Apabila wanita yang dizinainya tidak sampai hamil, maka pembebasan rahimnya dengan cara menunggu haid berikutnya. Setelah melakukan perzinaan kemudian dia haid. Dalam kasus yang seperti ini, boleh menikahinya setelah melewati satu kali masa haid, yang menunjukkan bahwa memang tidak ada bibit yang tersimpan dalam rahimnya. Dan tentunya ini apabila keduanya bertaubat dari perzinaan.

 

Adapun jika salah satu dari keduanya belum bertaubat dari perzinaan tersebut, sehingga salah satu dari keduanya masih berlaku padanya nama zaani (pezina) maka keduanya tidak boleh menikah. Dalilnya adalah firman Allah Subhanahu wa Ta’ala:

 

الزَّانِي لاَ يَنْكِحُ إِلاَّ زَانِيَةً أَوْ مُشْرِكَةً وَالزَّانِيَةُ لاَ يَنْكِحُهَا إِلاَّ زَانٍ أَوْ مُشْرِكٌ وَحُرِّمَ ذَلِكَ عَلَى الْمُؤْمِنِيْنَ

 

“Laki-laki yang berzina tidak mengawini melainkan perempuan yang berzina, atau perempuan yang musyrik; dan perempuan yang berzina tidak dikawini melainkan oleh laki-laki yang berzina atau laki-laki musyrik, dan yang demikian itu diharamkan atas orang-orang mukmin.” (An-Nur: 3)

 

Maksudnya, seorang pezina diharamkan menikah dan sebaliknya wanita pezina juga haram dinikahi. Jadi bolehnya menikah adalah apabila keduanya memang sudah bertaubat dari perzinaan tersebut, sehingga tidak lagi dinamakan lelaki pezina atau wanita pezina.

 

Bagaimana Status Anak Keduanya?

 

Ini tentunya kalau ditakdirkan bahwa wanita yang dizinai tersebut hamil akibat perzinaan tersebut. Status anak tersebut adalah anak yang lahir karena perzinaan. Anak ini tidak boleh dinasabkan pada lelaki yang berzina dengan ibunya, karena dia bukanlah ayahnya secara syariat. Oleh karena itu, sang anak dinasabkan kepada ibunya. Demikian pula tidak boleh saling waris-mewarisi. Juga seandainya anak tersebut wanita, maka laki-laki tersebut tidak boleh menjadi walinya dalam pernikahan dan juga bukan mahramnya sehingga tidak berlaku padanya hukum-hukum mahram. Sehingga laki-laki itu tidak boleh berkhalwat dengannya, tidak boleh melihat wajahnya, tidak boleh berjabat tangan dengannya, dan seterusnya. Satu-satunya hukum yang berlaku adalah bahwa si laki-laki tidak boleh menikahi anak hasil perzinaan tersebut, karena anak wanita itu berasal dari air maninya. Hanya ini satu-satunya hukum yang berlaku, sebagaimana diterangkan oleh para ulama. Wallahu a’lam bish-shawab.

 

1 HR. Ahmad, Ibnu Majah, Al-Hakim dan yang lainnya dari Abdullah ibnu Mas’ud radhiallahu ‘anhu, dishahihkan oleh Al-Albani dalam Shahih Ibni Majah (4252).

2 HR. Ahmad, Abu Dawud, Ibnu Majah, dan yang lainnya, dishahihkan oleh Al-Albani dalam Shahih Abi Dawud (1021).

 

 

 

 

 

 

Silahkan mengcopy dan memperbanyak artikel ini

dengan mencantumkan sumbernya yaitu : www.asysyariah.com

 

 

 

 

=======================================================================

 

 

Pacaran Islami, Memang Ada?

 

 

Karya : Yuli Harmita

 

Source : tentang-pernikahan.com

Bagi remaja, bila istilah itu disebut-sebut bisa membuat jantung berdebar. Siapa sich yang enggak semangat bila bercerita seputar pacaran? Semua orang yang normal pasti senang dan bikin deg-degan.

 

Bicara soal cinta memang diakui mampu membangkitkan semangat hidup. Termasuk anak masjid, yang katanya “dicurigai” tak kenal cinta. Sama saja, anak masjid juga manusia, yang memiliki rasa cinta dan kasih sayang. Pasti dong, mereka juga butuh cinta dan dicintai. Soalnya perasaan itu wajar dan alami. Malah aneh bila ada orang yang enggak kenal cinta, jangan-jangan bukan orang.

 

Nah, biasanya bagi remaja yang sedang kasmaran, mereka mewujudkan cinta dan kasih sayangnya dengan aktivitas pacaran. Kayak gimana sich? Deuuh, pura-pura enggak tau. Itu tuch, cowok dan cewek yang saling tertarik, lalu mengikat janji, dan akhirnya ada yang sampai hidup bersama layaknya suami istri.

 

Omong-omong soal pacaran, ternyata sekarang ada gossip baru tentang pacaran islami. Ini kabar benar atau cuma upaya melegalkan aktivitas baku syahwat itu? Malah disinyalir, katanya banyak pula yang melakukannya adalah anak masjid. Artinya mereka itu pengen Islam, tapi pengen pacaran juga. Ah, ada-ada saja!!!

 

Memang betul, kalo dikatakan bahwa ada anak masjid yang meneladani tingkah James Van Der Beek dalam serial Dawson’s Creek, tapi bukan berarti kemudian dikatakan ada pacaraan Islami, itu enggak benar. Siapapun yang berbuat maksiat, tetap saja dosa. Jangan karena yang melakukan adalah anak masjid, lalu ada istilah pacaran Islami. Enggak bisa, jangan-jangan nanti kalau ada anak masjid kebetulan lagi nongkrongin judi togel, disebut judi Islam? Wah gawat bin bahaya.

 

Tentu lucu bin menggelikan dong bila suatu saat nanti teman-teman remaja yang berstatus anak masjid atau aktivis dakwah terkena “virus” cinta kemudian mengekspresikannya lewat pacaran. Itu enggak bisa disebut pacaran Islami karena memang enggak ada istilah itu. Jangan salah sangka, mentang-mentang pacarannya pakai jilbab, baju koko, dan berjenggot, lalu mojoknya di masjid, kita sebut aktivitas pacaran Islami. Wah salah besar itu!!!

 

Lalu bagaimana dengan sepak terjang teman-teman remaja yang terlanjur menganggap aktivitas baku syahwatnya sebagai pacaran Islami? Sekali lagi dosa! Iya dong. Soalnya siapa saja yang melakukan kemaksiatan jelas dosa sebagai ganjarannya. Apalagi anak masjid, malu-maluin ajach.

 

Coba simak QS. An-Nuur : 30, “Katakanlah kepada orang laki-laki yang beriman: Hendaklah mereka menahan pandanganya, dan menjaga kehormatannya; yang demikian itu adalah lebih suci bagi mereka, sesungguhnya Allah Maha Mengetahui apa yang mereka perbuat.” Kemudian QS. An-Nuur : 31, “Katakanlah kepada wanita yang beriman: Hendaklah mereka menahan pandangannya, dan menjaga kehormatannya, dan janganlah mereka menampakkan perhiasannya, kecuali yang (biasa) nampak dari padanya…”

 

Jadi gimana dong? Dalam Islam tetep tak ada yang namanya pacaran Islami. Lalu kenapa istilah itu bisa muncul? Boleh jadi karena teman-teman remaja hanya punya semangat keislaman saja tapi minus tsaqafah ‘pengetahuan’ Islamnya. So? Ngaji lagi yuk!!!

 

 

===============================================================================

 

 

Hanya ingin bertanya,

bagaimana kalo seandainya kita taaruf jarak jauh?, hanya di antara ikhwan dan akhwat yang tau , mungkin bisa di katakan tanda kutip “pacaran jarak jauh”, jika “pacaran ini di laksanakan dalam waktu lama, satu atau dua tahunan misal dan setelah siap baru akan melaksanakan pernikahan?

 

adakah zinah yang telah di lakukan? apakah Islam melarang perwujudan cinta atau taaruf jarak jauh ini?

tolong penjelasanya…..

 

Jazakallah

Wassalamu’alaikum

 

admin:

wa’alaykumussalam warahmatullahi wabarakatuh

 

jazakillah khoir..

 

Pastikan kembali tujuan ta’aruf itu untuk apa? Jika hanya sebatas teman dan hanya untuk berteman, jalinlah setiap komunikasi dengan si ikhwan atas sebuah manfaat yang jelas, tujuan yang jelas, dan bahasa yang jelas.

 

Kalaulah pernikahan masih jauh diujung mana(blm jelas kapannya), sebaiknya batasi interaksi dengan si ikhwan. Interaksi yang intens meski itu dilakukan dengan jarak yang jauh, tetap saja akan membuaikan kita, apakah itu melalui kata-kata, ataupun angan-angan, sedangkan sebagian dari perkataan dan angan-angan itu pasti ada padanya zina mulut dan zina hati. Seberapa besar zina (meski kategorinya kecil) yang kita lakukan, wallahu’alam, tetapi tentu tidak kecil lagi, jika terus menerus kita lakukan, apalagi dalam jangka waktu yang lama. Dan semakin sering hal itu kita lakukan, semakin jauh kita dengan tujuan mulia yang hendak diraih. Harapan yang telah terlanjur dibawa tinggi, tiba-tiba dibuyarkan oleh kenyataan yang sebaliknya, pernikahan tidak terjadi, setelah ‘hubungan’ terjalin 1,2 atau lebih tahun. Pertama, waktu yang dihabiskan selama ini menjadi tak bernilai..kedua, ada banyak kerugian yang didapat..ketiga, frame kita tentang calon pasangan yang ‘ideal’(kalo dalam bahasa Islam..cari yang agamanya baik) telah terdistorsi sedemikian rupa akibat sakit hati(entah disadari atau tidak) yang kita alami, sehingga seringkali kita tidak siap dengan ‘kekurangan’ orang lain, dan cenderung menganggap bahwa dengan “pacaran” lah seseorang bisa lebih dikenali. Padahal tidak ada orang yang berpacaran yang akan menunjukkan kekurangannya seperti apa.

 

Itulah mungkin, salah satu sebab kenapa mereka yang berpacaran itu sangat sulit untuk menyegerakan pernikahan, karena komunikasi yang mereka bangun adalah komunikasi pura-pura. Pura-pura menjadi manusia terbaik, pura-pura yang paling perhatian sama kita, pura-pura yang paling baik perkataannya(melalui puisi, rayuan, sms tausiah, tahajud’s miscall..hehehe), dsbnya. Sehingga ada keraguan(ntah disadari atau tidak) yang besar pada saat (terutama) si ikhwan ‘ditantang’ untuk segera menikahi si akhwat.

 

Kalau memang jodoh, toh tidak akan lari kemana kan? Judul “Ketika cinta bertasbih” menurut saya memiliki filosofi, bahwa ketika cinta itu ‘dihunjamkan’ Allah SWT ke dalam hati insan yang merasakannya, maka dengan segera penyikapannya dijaga agar sesuai dengan tuntunan Allah SWT, bahasanya “cinta bertasbih”. Orang yang benar cintanya, tentu tidak akan melupakan Zat yang telah menganugrahkan cinta itu. Cara perkenalannya adalah cara yang ma’ruf, cara-cara yang jauh dari terjadinya khalwat(baik langsung maupun virtual/chating/sms mesra, telpon mesra dll), tidak berdua-duan, tidak mengumbar pandangan dan kata-kata, menyertakan muhrim, dan yang terpenting tujuannya adalah menyegerakan pernikahan.

 

Jadi Islam bukan melarang/membatasi sebuah ta’aruf berdasarkan jauh dekat, tetapi lebih menekankan kepada tujuan dan cara yang ditempuh. Karena diterimanya sebuah amal, selain masalah niat, tentu saja kesesuaian cara harus menjadi pertimbangan yang utama, wallahu’alam.

 

wassalamu’alaykum warahmatullahi wabarakatuh

 

Comment by Tinisyifa | July 20, 2008

 

 

 

=========================================================================================

 

 

 

Ta’aruf Praktis

 

Ditranslasi “bebas” dari http://islam.about.com/blcourtship.htm

 

“Jika pacaran dilarang didalam Islam, bagaimana muda-mudi Islam mendapatkan pasangan mereka?”

 

Assalamu’alaykum warahmatullahi wabarakatuh

 

Pertanyaan yang biasanya sering saya dapat dari muda-mudi adalah, “Apakah orang islam pacaran?” dan “jika mereka tidak pacaran, bagaimana cara mereka memutuskan siapa yang akan mereka nikahi?”

 

“Pacaran” sebagaimana dipraktekkan hampir diseluruh belahan dunia tidak dikenal di dalam Islam — dimana seorang pemuda dan seorang pemudi (atau boys en gals) memiliki hubungan yang intim, mesra, menghabiskan waktu bersama-sama, “saling mengenal” dengan cara yang sangat akrab meski mereka telah memutuskan untuk menikah, terlebih lagi bagi mereka yang belum memutuskan untuk menikah. Secara sederhana, didalam Islam hubungan yang akrab sebelum menikah(pacaran — premarital relationship) dalam bentuk apapun antara dua manusia lain jenis adalah haram.

 

Menentukan pilihan atas seorang yang akan kita nikahi adalah keputusan yang sangat penting yang akan kita buat dalam hidup kita. Seharusnya hal itu tidak dianggap enteng, atau diabaikan atau sekedar mengikuti hormon. Hal tersebut harus kita prioritaskan, sebagaimana keputusan-keputusan besar lainnya sepanjang hidup - dengan doa(keterlibatan Allah SWT), dengan kehati-hatian, dan keterlibatan keluarga dan teman-teman terpercaya.

Jadi, bagaimana pemuda-pemudi Islam memanage hal ini pada masa sekarang? Pertama-tama, muda-mudi Islam harus memperkuat persahabatan, ukhuwah islamiyah, dengan sesamanya (bukan sebaliknya, berakrab-akrab ria dengan lawan jenis). Kemudian komunitas “sister” dan komunitas “brother” ini akan saling menguatkan, dan saling memperbaiki diri dan kehidupan mereka. Ketika seorang muda-mudi siap untuk menikah, maka ada beberapa langkah yang bisa diambil :

 

* Perbanyaklah berdoa kepada Allah SWT, mohonkanlah agar Allah SWT memberikan kemudahan dalam rangka menjemput jodoh yang baik dan tepat bagi mereka.

 

* Ajaklah keluarga untuk berdiskusi, tentang berbagai hal, mengenai calon dsbnya. Jika dianggap perlu, keluarga inti dapat mengajak keluarga besar yang lain yang dapat dipercaya untuk bertukarpikiran. Biasanya ayah atau ibu mendekati keluarga lain untuk mengadakan pertemuan.

 

* Kemudian masing-maisng calon setuju untuk mengadakan pertemuan yang ditemani oleh muhrim masing-masing, atau teman-teman yang dapat dipercaya. Dari Umar, bahwa Rasululah SAW bersabda “ Janganlah seorang lelaki berduaan dengan seorang perempuan, kecuali disertai mahramnya “(Bukhari/Muslim). Rasulullah SAW dalam kesempatan lain bersabda “Tidaklah seorang laki-laki bersendirian dengan seorang wanita (yang bukan mahramnya) kecuali yang ketiganya adalah syaithan”(tirmidhi). Ketika pemuda-pemudi mulai memiliki rasa untuk saling mengenal, maka kondisi berdua-duan keduanya akan menjadi godaan untuk melakukan perbuatan maksiat. Disetiap waktu, umat Islam harus mengikuti aturan perintah Allah SWT yang termaktub didalam Al Quran (An Nur: 30-31) agar “..rendahkanlah pandangan mereka dan jagalah kemaluan mereka..”. Islam mengenalkan bahwa kita adalah manusia yang memiliki kelemahan, dan aturan ini untuk menjaga kita.

 

* Keluarga kemudian menyelidiki calon lebih jauh - berbicara dengan teman-temannya, keluarganya, guru ngajinya, teman-teman kerjanya dsbnya. untuk mengetahui dan mengenal lebih jauh tentang sifat dan karakter sang calon.

 

* Masing-masing calon melaksanakan sholat Istikharah (memohon petunjuk yang terbaik atas pilihan yang ada) agar mendapat kemantapan hati dari Allah SWT dalam membuat sebuah keputusan.

 

* Jika cocok, maka masing-masing calon menyegerakan pernikahan. Jika tidak maka berpisah dengan baik-baik. Islam memberikan hak penuh bagi muda-mudi untuk memilih calonnya masing-masing - mereka tidak boleh dipaksa untuk menikah jika mereka tidak menginginkannya.

 

Cara meminang terfokus seperti ini membantu untuk menjamin kekuatan pernikahan, yang dibangun dengan kebijaksanaan dan petunjuk dari keluarga dalam keputusan hidup yang penting. Keterlibatan keluarga dalam usaha menjemput pasangan akan memberikan jaminan bahwa pilihan yang kita buat tidak didasarkan nafsu semata, tetapi lebih kepada bentuk keseriusan, kehati-hatian, pertimbangan yang objektif, atas kecocokan dan kesesuaian dengan calon pasangan. Itulah kenapa pernikahan yang diawali dengan proses seperti ini seringkali sukses dunia akhirat, insyaAllah. Wallahu’alam.

Wassalamu’alaykum warahmatullahi wabarakatuh

 

 

 

====================================================================

 

 

 

Pacaran...Kenapa Nggak Boleh Sih ??

 

 

Penulis: ummu raihanah      Tanggal: Wed, 17 March 2004, 05:07:59 WIB Hits: 178

 

 

 

“Aih, Kenapa sih,…kok islam melarang pacaran?? Begitu keluhan fulanah.Buat Fulanah ia melihat ada sisi positif yang bisa diambil dari pacaran ini. Pacaran atau menurutnya ‘penjajakan’ antara dua insan lain jenis sebelum menikah sangat penting agar masing-masing fihak dapat mengetahui karakter satu sama lainnya (dan biasanya untuk memahami karakter pasangannya ada yang bertahun-tahun berpacaran lho!!).Fulanah menambahkan ,”Jadi dengan berpacaran kita akan lebih banyak belajar dan tahu, tanpa pacaran ?? Ibarat membeli kucing dalam karung!! Enggak deh…!” kemudian ia menambahkan “Bila suka dan serius bisa diteruskan ke pelaminan bila tidak ya,..cukup sampai disini..bay-bay!!, Mudahkan?”…hmm…Fulanah tidakkah engkau melihat dampak buruk dari berpacaran ini, ketika masing-masing fihak memutuskan berpisah??...Fulanah apakah engkau yakin benar apabila “putus dari pacaran” hati ini tidak sakit? Benarkah hati ini bisa melupakan bekas-bekas dari pacaran itu? Tidakkah hati ini kecewa, pedih, atau ikut menangis bersama butiran air mata yang menetes?? Sulit dibayangkan!Karena memang begitulah yang saya lihat didepan mata menyaksikan orang yang baru saja putus pacaran...

 

 

 

Bila memang kita tanya semua wanita muslimah seusia Fulanah (yang sedang beranjak dewasa) maka akan melihat ‘pacaran’ ini dengan sejuta nilai positif.Jadi, jangan merasa aneh bila kita dapati mereka merasa malu dengan kawannya karena belum punya pacar!!.. Duh,..kasihan sekali…Wahai ukhti muslimah…Mari kita telaah bersama dengan lebih dalam.Berdasarkan fakta yang ada, bila anda mau menengok sekilas ke surat kabar, tetangga sebelah atau lingkungan sekitar ,siapa sebenarnya yang banyak menjadi korban ‘keganasan’ dari pacaran ini? Wanita bukan??.. Bila anda setuju dengan saya, Alhamdulillah berarti hati anda sedikit terbuka.Ya,… coba lihat akibat dari berpacaran ini.Awalnya memang hanya bertemu, ngobrol bareng,bersenda gurau, ketawa ketiwi,lalu setelah itu??tentu saja setan akan terus berperan aktif dia baru akan meninggalkan keturunan Adam ini setelah terjerumus dalam dosa atau maksiat.Pernahkah anda ,.. mendengar teman atau tetangga ukhti hamil di luar nikah? Suatu klinik illegal untuk praktek aborsi penuh dengan kaum wanita yang ingin menggugurkan kandungannya? Karena sang pacar lari langkah seribu atau tidak mau kedua orangtuanya tahu? Atau pernahkah engkau membaca berita ada seorang wanita belia yang nekat bunuh diri minum racun serangga karena baru saja di putuskan oleh kekasihnya??Sadarkah kita, bahwa sebenarnya kaum hawalah yang banyak dieksploitasi dari ‘ajang pacaran ini?

 

 

 

Sungguh, islam telah memuliakan wanita dan menghormati kedudukan mereka.Tidak percaya??lihat hadits ini..”janganlah sekali-kali seorang laki-laki berduaan dengan seorang perempuan, melainkan si perempuan itu bersama mahramnya”  (HR.Bukhari, Muslim dan Ahmad).Islam melarang laki-laki untuk berduaan tanpa ada orang ketiga karena islam tidak menginginkan terjadinya pelecehan ‘seksual’ terhadap wanita.Sehingga jadilah mereka wanita-wanita muslimah terhormat dan terjaga kesuciannya.Untuk kaum laki-laki pun islam melarang mereka menyentuh wanita yang bukan mahramnya coba simak hadits ini “Sungguh bila kepala salah seorang ditusuk dengan besi panas lebih baik daripada menyentuh wanita yang tidak halal baginya”(HR.Thabrani, dalam Mu’jamul Kabir)

 

 

 

Nah, jelas bukan mengapa islam melarang pacaran??Bila memang seorang laki-laki ingin serius menjalin hubungan dengan seorang wanita, maka islam telah menyediakan sarananya, yaitu menikah.Karena islam Bukanlah agama yang kaku, maka islam menganjurkan kepada masing-masing fihak untuk saling berkenalan (ta’aruf).Tentu saja tidak berduaan lho,..harus ada pihak ketiganya.Setelah itu? Ya,.selamat bertanya tentang biografi calon pasangan anda,apabila kurang jelas, masih kurang yakin..islam menganjurkan mereka untuk shalat istikharah agar di berikan pilihan yang mantap yang nantinya insya Allah akan berakibat baik bagi dunia dan akhirat kedua belah pihak.Setelah mantap dan yakin akan pilihannya..kuatkan azzam (tekad), dan Bismillah…menikah..!! Indah bukan??

 

 

 

WWW.GAULISLAM.COM

WWW.DUDUNG.NET

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar