Rabu, 30 Maret 2011

Televisi, Musuhku

Televisi, Musuhku
Rabu, 28/10/2009 08:16 WIB | email | print

Oleh Yudian Budianto

Hari ini, sekian bulan sudah kami tidak menyetel tv. Antenanya kami cabut. Alhamdulillah anak-anak sudah terbiasa dengan keadaan tsb, walau pada awalnya susah, tapi lama-lama akhirnya terbiasa. Oya, program ini sudah 2 tahun kami coba, dan kali ini adalah interval yang paling lama – 2 bulan lebih. Kami pun, orang tua, mulai terbiasa. Mudah-mudahan ALLAH memberi kepada kami keistiqomahan untuk tetap teguh pada keputusan ini; tak ada tv di rumah, sampai acara tv melepaskan diri dari kontent maksiat, menunjang cita-cita kami; keluarga qurani.

Kami selalu berdoa agar ALLAH menghindarkan kami sekeluarga dari tv dan pengaruh buruknya, menjauhkan kami dari tv sejauh-jauhnya, sejauh timur dan barat. Kami amat khawatir jika tidak teguh denga pendirian ini, karena membawa tv ke dalam rumah adalah bencana. Bencana dunia dan akhirat.

——
TV amatlah merusak. Sinetron yang mempertontonkan aurat perempuan; buah dada, rambut, leher, pundak, perut, paha, betis dll. Lalu iklan yang mempertontonkan hal yang sama di atas. Bahkan acara talkshow, berita dan acara informasi ‘baik & berkualitas’ yang semisal pun tak lepas dari tontonan aurat. Pembawa berita yang cantik, bibir seksi, rambut terurai, bahkan buah dada yang menonjol plus betis yang mulus. Mau kemana kita? kemana pun kita ubah channel tv kita, pasti kita akan menemukan hal-hal rusak tsb.

Belum lagi acara yang memang sengaja dikemas untuk memancing syahwat yang hostnya berpakaian seksi, tamunya perempuan-perempuan berpakaian seksi, obrolannya pun sengaja diarahkan kepada hal-hal yang seks, belum lagi kalau tamunya disuruh menyanyi, lalu bergoyang-goyang… sungguh sebuah bencana!

Juga film-filmnya, yang ini tak usah dibahas kerusakannya-karena pasti rusak. Siapa yang tidak setuju dengan ini, berarti otaknya telah rusak.

Ceramah agama? Acara ini memang mendatangkan manfaat, tapi setelah itu? kita akan disuguhkan dengan iklan yang merusak. 15 menit siraman ruhani, terhapus dengan tayangan iklan sabun atau shampoo…. mana tahannn.

Rumah menjadi seperti diskotik. Hingar-bingar. Kadang berisik dengan dialog,lalu senyap sebentar, setelah itu berisik dengan musik-musik iklan. Brang-breng-brang-breng, lalu berganti dengan yang lain. Rumah tidak membawa ketenangan, berisik, sempit sekali kesempatan untuk mengingat ALLAH, untuk merenung, karena hati kita telah dirampok oleh tv.

Belum lagi acara musik yang berisi lagu-lagu yang menyimpangkan kaum muslimin dari cita-cita mulia, syair-syair maksiat & cengeng, menyeru pada dunia, melupakan jihad, belum lagi penampilan mereka yang memalukan, gaya yang tak sesuai dengan nilai islami dll.

Kita bisa mengontrol tv?
Ada yang bilang, tak semua acara tv rusak, masih ada manfaat yang bisa diambil. Memang betul. Tapi bagaimana mengambilnya? Apakah setiap saat kita memegang remote untuk menghindar dari pengaruh buruk tv? setiap saat kita memegang remote untuk mencari-cari acara yang bermanfaat? setiap saat kita memejamkan mata dari gambar-gambar yang merusak?

Apakah setiap saat kita mendampingi anak-anak kita? setiap saat kita menceramahi mereka sambil menonton tv, yang ini tidak boleh-yang itu boleh? Bukankah kita pasti keluar dari rumah, bekerja, dan mengurus hal-hal yang berkenaan dengan kehidupan kita? bagaimana ketika anak-anak tak ada yang mendampingi?

Apakah kita bisa mengontrol tayangan iklan yang merusak? kita bisa memilih iklan apa saja yang ditayangkan untuk acara tertentu? atau kita bisa memprediksi iklan apa saja setelah itu? bagaimana saat di tengah acara tertentu lalu tiba-tiba datang iklan film india yang biasanya penampilan artis perempuannya mengundang nafsu syahwati? nehi, nehi… aca, aca…

Mengontrol, malah dikontrol
Kalaupun niat awalnya adalah untuk mengontrol, lama-lama kita yang dikontrol. Kita menjadi ketagihan dengan acara tv. Niat awal untuk mengambil manfaat, lama-lama tertarik dengan acara yang lain; lawak, ketawa-tawa, haha-hihi, lama-lama hati kita menjadi keras karena canda-tawa, lihat-lihat acara musik sedikit, lihat sinetron sedikit, “untuk memantau” katanya, lama-lama malah nonton film. Yang tadinya membatasi film yang ‘biasa’ menjadi film yang ‘tak biasa’, lalu film romantis, walah….

Ingat pribahasa “dari mana datangnya cinta, dari mata turun ke hati”. Niat awal hanya memilih yang baik-baik, lama-lama kecantol dengan yang sedikit tidak baik, lalu keterusan ke yang tidak baik. Itulah hati, ibarat perut, dari makan 1/2 piring, lalu 3/4 piring, meningkat 1 piring, lama-lama nambah…itulah tipu daya syaitan.

Hati menjadi gelisah. Satu hari tak melihat tv menjadi tidak tenang. Selalu cari alasan untuk menyetel tv. “Mau cari berita” katanya, padahal kalo ditelisik kepada hati yang lebih dalam adalah karena ingin memenuhi syahwat.

Hasbunallah wani’mal wakil, ternyata susah sekali mengontrol tv. Kita, jika ingin mengambil manfaat tv, ibarat ingin mengambil sebutir beras yang tertimbun di dalam tumpukan kotoran sapi. Tak bisa tidak, pasti terkena kotorannya. Daripada repot membersihkan tangan, mending tak usah diambil sama sekali. Ingatlah akan sebuah kaidah ushul fiqih: “menghindar dari keburukan lebih diutamakan daripada mengambil manfaat”. Cari media lain; koran, internet, radio – yang relatif lebih bisa dikontrol.

Rumah, benteng pertahanan terakhir
Rumah adalah benteng pertahanan kita. Setelah satu hari berkutat bekerja di luar rumah plus kemaksiatan yang banyak sekali, kita pulang ke rumah dengan harapan ia melindungi kita dari segala kemaksiatan. Tapi apa yang kita dapati di rumah? tv siap mengajak kita untuk bermaksiat kembali. Bukannya berkurang intensitas kemaksiatan, malah bertambah…tragis.

Tak ada ruang untuk istirahat dari maksiat. Di luar rumah kita bermaksiat, pulang ke rumah bermaksiat lagi. Padahal kita sering berdoa : “waj’alil mauta rohatan lana minkulli syarr (Jadikan ya ALLAH kematian kami sebagai istirahat dari segala keburukan)”

Ternyata benteng terakhir kita, telah jebol. Rumah kita, yang seharusnya menjadi tempat kontemplasi, merenung, tempat kita mendidik anak-anak kita, tempat mentarbiyah diri dan keluarga kita telah dimasuki oleh berhala baru, sumber maksiat baru, rumah kita telah berubah menjadi sarang maksiat, la haula walaa quwwata illa billah…

Cita-cita kita adalah menjadikan keluarga kita menjadi keluarga qurani, keluarga yang selalu berinteraksi dengan alquran, keluarga yang menjadi imam bagi orang-orang bertaqwa “waj’alna lil muttaqiina imaama (jadikan kami imam orang-orang bertaqwa)”. Tapi bagaimana caranya jika pagi, siang, sore, malam selalu disuguhkan dengan acara-acara tv? kapan kita dan mereka belajar membaca alquran? kapan menghafal alquran? kapan mempelajari arti perkalimat dari alquran? kapan mempelajari hadist nabi yang mulia? menghafalnya? belajar fiqh? apakah setelah nonton lawak? atau setelah menonton gadis seksi? apa bisa mencampur alhaq dengan batil? “wala talbisul haqqa bil baatil – janganlah mencampur alhaq dengan albatil”

Anak-anak menjadi susah diatur, menjadi tidak disiplin dalam belajar, tidak disiplin belajar dan membaca alquran. Selalu cari alasan untuk mengundur-undur waktu. Setelah film kartun inilah, setelah acara inilah, nonton lawakan itu dululah dll. Fikiran mereka menjadi tidak fokus, secara tidak sengaja kita telah mengajarkan diri kita dan mereka untuk cinta kepada dunia, menjadi hamba dunia, diri kita menjadi lengket pada dunia (maa lakum idza qiila lakum infiru fi sabilillahi ats-tsaaqoltum ilal ardh? kenapa jika diperintahkan kepada kamu berperanglah di jalan ALLAH, kamu ‘lengket’ pada dunia?) diri kita tidak bisa ‘terbang’ ke langit menuju angkasa bebas, bebas mencintai ALLAH dan RasulNya, cinta kepada jihad. Kepala kita penuh dengan acara-acara televisi, tak ada lagi informasi mengenai almuslimun almustadhafun, kepada kaum muslimin yang tertindas di afghan, iraq, palestina, kaukasus, dll.

Hati ini tidak lagi indah. Tidak indah dengan muhasabah, dengan jihad, kerinduan syahid di jalan ALLAH, kebencian kepada musuh – malah kita satu barisan dengan musuh karena gandrung dengan produk mereka, nonton film mereka, suka dengan tokoh-tokoh mereka, tertawa bersama mereka.

Malam kita tidak lagi menjadi malam yang indah, malam penuh dengan kesenyapan, meresapi keheningan bersama ALLAH sebelum tidur, karena suara-suara tv selalu memanggil-manggil, malam kita tidak lagi seperti malamnya orang shalih, yang hanya diisi oleh suara senyap, tapi berganti dengan suara-suara yang menyimpangkan dari mengingat ALLAH – “waminannas man yattakhidzu lahwal hadist liyudhilla ‘an sabilillah (dan diantara manusia itu ada yang membuat/mengambil suara-suara yang menyesatkan dari jalan ALLAH)”

Tidur kita menjadi tidur setelah maksiat, tidur setelah menonton acara syahwati, minimal setelah menonton pembawa acara / pembaca berita yang cantik, hati bergemuruh, tak tenang, mata kita yang terpejam diiringi dengan kelebatan gambar-gambar yang telah kita tonton sebelumnya, membuat syaithan lebih mudah untuk mengikat kita di tempat tidur, susah untuk bangun qiyamul lail maupun sholat subuh di masjid dan tilawah alquran setelahnya. Bangun tidur kita menjadi bangun tidur yang penuh dengan penyesalan, sesal karena telah bermaksiat yang menyebabkan kemaksiatan baru.

Lalu kita berazam untuk tidak terjebak lagi pada kesalahan itu, tetapi peristiwa itu berulang lagi, dan lagi, dan lagi…. Kenapa? karena berhala itu masih ada di rumah kita, ia masih hidup dan mampu menyihir kita, sedikit demi sedikit. Lain halnya jika kita ambil tindakan tegas : cabut antena!

——-

Menyingkirlah dari dunia, walau sebentar.
Ada sebuah perkataan dari seorang sahabat yang mulia kepada sahabatnya yang juga mulia karena mereka adalah para sahabat-sahabat mulia dari seorang nabi yang teramat mulia – shallallahu ‘alaihi wasallam, yaitu Abdullah bin Rawahah kepada Abu Darda : “Akhi, ta’nul nu’minu sa’ah (marilah saudaraku kita beriman sebentar)” atau mu’adz bin jabal yang berkata kepada para sahabatnya “ijlis bina nu’minu sa’ah (duduklah bersama kami, kita beriman sejenak)”. Menyingkirlah dari tv, menyingkirlah dari dunia, walau sebentar.

Ghuraba-un hakadzal ahraru fi dun-yal abiid (ghuraba, beginilah kami membebaskan diri dari penghambaan kepada dunia)….(nasyid ghuraba)

Ya ALLAH jauhkan kami dari tv, dari keburukannya, hindarkan kami dari tv, jauhkan kami sejauh-jauhnya, jauhkan kami sejauh timur dan barat, berikan kami keteguhan atas sikap ini, jauhkan kami dari kerinduan terhadapnya, berikan kami pengganti yang lebih baik dan lebih menyelamatkan dunia dan akhirat kami.

Allahumma ij’alil hayata ziyadatan lana fi kulli khaiir (Jadikan ya ALLAH kehidupan kami sebagai sarana menambah segala kebaikan), amiin.

Filed under: - - - dari eramuslim.com |

Dekadensi Moral dan Akar Ideologisnya

Meninggalnya Michael Jackson yang kontroversial menambah daftar panjang para artis yang meninggal secara tragis. Terlepas dari gosip seputar keislamannya, tetap saja kematian Michael Jackson menyisakan catatan kelam kehidupan para artis. Catat saja Kurt Cobain -vokalis grup musik beraliran grunge Nirvana- meninggal karena bunuh diri. Jim Morrison -vokalis grup musik rock The Dorrs- meninggal karena over dosis, Michael Hutchence -vokalis grup musik INXS- meninggal karena bunuh diri.

Mereka semua meninggal dalam keadaan terkenal, muda, kekayaan berlimpah, dikelilingi wanita, namun menemukan diri mereka dalam kondisi “stress” tanpa sebab yang jelas. Akhirnya mereka berusaha melarikan diri dari “stress” tersebut dengan hura-hura, pesta-pesta, narkotika dan berbagai obat penenang.

Perilaku para artis tersebut merupakan puncak gunung es dari gambaran masyarakat barat pada umumnya, yang materealis sekuler. Seperti kita ketahui, dari permukaan laut puncak gunung es terlihat kecil namun jika kita melihat ke bawah permukaan laut akan terlihat gunung es yang tinggi dan terkadang dapat menenggelamkan sebuah kapal laut yang besar sekalipun, seperti halnya yang terjadi pada kapal Titanic yang tenggelam dan terkenal sepanjang sejarah.

Apa yang terjadi pada para artis tersebut menunjukkan apa yang juga terjadi dibawah permukaan, yaitu masyarakat barat pada umumnya. Suatu masyarakat yang menolak eksistensi ruh dalam kehidupan dan beranggapan bahwa kehidupan adalah dunia yang terlihat. Masyarakat barat menolak syariat Allah SWT dan memilih syariat “berhala–berhala” pemikiran manusia yang dikeluarkan oleh pakar-pakar syariat “thagut” sebagai syariat yang mengatur kehidupan mereka.

Gaya hidup masyarakat barat yang hedonis telah lama di kritik oleh para pemikir mereka sendiri, diantaranya John Schetineck, seorang penulis cerita besar Amerika( Yusuf Qordhowi,Islam Peradaban Masa Depan) : Problem yang dihadapi Amerika justru kekayaan negeri ini memiliki segalanya dalam jumlah melimpah, akan tetapi tidak memiliki ruhani yang cukup. Seandainya saya ingin menghancurkan suatu bangsa saya akan memberinya sesuatu yang lebih banyak dari yang ia butuhkan kekayaan yang melimpah ini membuatnya rakus, tak berdaya, dan sakit. bangsa kita tidak mungkin dapat hidup lebih lama dengan prinsip prinsip yang dianutnya

Kemajuan science, peradaban materi, yang dicapai barat dan selalu mereka bangga-banggakan ternyata tak mampu sedikitpun meredam kegelisahan yang menerpa jiwa-jiwa yang berusaha menolak fitrahnya untuk senantiasa beribadat kepada penciptanya, Allah SWT. Sehingga penyakit kejiwaan di masyarakat barat menjadi merajalela dan semakin menunjukkan trend yang beraneka ragam. Hal ini bisa dilihat dari banyaknya istilah-istilah dan terminologi baru tentang penyakit jiwa yang tak pernah dibayangkan oleh manusia sebelumnya.

Maka tatkala mereka melupakan peringatan yang telah diberikan kepada mereka, kami pun membukakan semua pintu-pintu kesenangan untuk mereka sehingga apabila mereka telah bergembira ria dengan apa yang telah diberikan kepada mereka, kami siksa mereka dengan tiba-tiba, maka ketika itu mereka terdiam berputus asa. maka orang orang zalim itu dibinasakan sampai ke akar-akarnya, segala puji bagi Allah Tuhan semesta alam (QS. Al An’am: 44-45)

Ideologi hippies, akar budaya kerusakan moral

Gaya hidup hedonis, seks bebas dan pengunaan obat-obatan penenang yang marak di kalangan artis dan masyarakat barat, dapat ditelusuri sejak kemunculan kaum muda yang menamakan diri mereka, kaum hippies. Mereka muncul di Amerika sekitar awal tahun 60-an yang dilatar belakangi oleh protes kaum muda terhadap perlombaan bom nuklir di era perang dingin antara dua blok penguasa dunia pada waktu itu, yaitu kapitalis Amerika dan komunis Soviet.. Mereka juga memprotes keikutsertaan AS dalam petualangan perang di Vietnam.

Lebih lanjut, kaum muda tersebut membentuk sebuah gerakan yang dikenal sebagai hippies atau flower generation. Mereka membentuk ideologi tersendiri untuk mencapai tujuan perdamaian yang mereka inginkan. Ideologi mereka kemudian dikenal bertumpu pada tiga hal yang saling berkaitan, yaitu music, love and drugs. Ideologi mereka menunjukkan eksistensinya ketika digelar Woodstock Festival tahun 1969, di mana lebih dari 500.000 kaum muda datang untuk berkumpul dan menggelar konser musi bersama musisi penganut ideologi hippies pada era tersebut, diantaranya: Carlos Santana, The Who, Jimy Hendrix, dan Janis Joplin.

Melalui musik mereka menyuarakan tujuannya, yaitu perdamaian dunia. Tema-tema musik mereka selain perdamaian adalah menyeru kepada dunia tentang pesan-pesan cinta atau ideologi love. Namun perlu digaris bawahi, love disini lebih cenderung dalam pengertian sebagai seks bebas. Ide mereka ini selanjutnya dikenal sebagai sexual revolution.

Mereka menolak tatanan masyarakat barat tentang kesucian seks yang harus di dapat melalui lembaga perkawinan. Bagi mereka seharusnya seks secara bebas didapatkan tanpa perlu ikatan perkawinan. Ide ini kemudian di populerkan oleh John Lennon, salah seorang personel band The Beatles dengan ungkapan “make a love not a war”. Lennon mengkampanyekan ide ini dengan cara cukup aneh, yaitu di tempat tidur dengan pakaian tidur bersama istrinya, Yoko Ono. Selain itu The Beatles pun menciptakan lagu yang kemudian menjadi credo bagi kaum hippies yaitu All you needed is love.

Di Woodstock para hippies mempopulerkan penggunaan zat-zat penenang dan minuman keras seperti cannabis (marijuana), LSD dan alkohol, untuk dikonsumsi sebagai bentuk protes terhadap perang dunia dan bentuk pelarian dari ketakutan terhadap perlombaan senjata.

Pada awalnya ideologi hippies ini mendapat tantangan keras dari masyarakat barat yang masih memegang moral kristiani. Sebelum era hippies ini masyarakat barat adalah pemegang teguh moral kristiani yang diantaranya melarang seks bebas dan menghormati institusi keluarga. Ditahun 30-an film film holliwood bisa dikatakan tak berani menampilkan adegan adegan seks secara vulgar.

Namun kini nampaknya ideologi hippies ini telah diterima luas bukan hanya di amerika namun merata diseluruh dunia. Hal ini ditandai ideologi hippies telah menjadi indrustri tersendiri yang menguntungkan. Kita bisa melihat bahwa grup grup band liar malah menjadi grup band terkenal dan berubah menjadi mesin penghasil uang. Kita bisa lihat pada grup musik Gun’s N roses, nirvana, linkin park dll. Semua lagu mereka rata rata berisi syair jorok, memuja syahwat, dan kebencian. Begitu juga dengan michael jackson yang lagu lagunya tak jauh dari memuja syahwat dan perdamaian dunia telah menjadi icon tersendiri bagi indrustri musik.

Hipies dan Zionisme

“Rangkul binatang-binatang yang suka mabuk, senangkan mereka dengan minuman. Hak yang berlebihan datang bersamaan dengan kebebasan bukanlah bagi kita dan masyarakat kita untuk menempuh jalan tersebut. Masyarakart goyimlah yang dibuai dengan minuman beralkohol; para pemuda mereka tumbuh bodoh dalam pengkelas-kelasan dan ketiadaan moralitas sejak dini, yang semua itu dilakukan agen khusus kita…

…..Kita akan mengalihkan mereka dengan hiburan, permainan, kegiatan waktu senggang, dorongan-dorongan syahwat, istana-istana rakyat……

…….camkan baik-baik keberhasilan yang telah kita buat dalam dariwinisme, marxisme dan nietzsche-isme, bagaimanapun juga, haruslah secara gamblang memahami dahsyatnya pengaruh merusak dari arahan ini pada pikiran orang goyim.

(Protocol of learned elders of zion).

Ada korelasi positip antara ide-ide kaum hippies dengan gerakan zionisme ini, sehingga tak ada alasan untuk menolak hubungan erat antara dua ideologi ini. Yang jelas pada umumnya ide-ide dalam protocol selalu dihembuskan dari belakang layar. Yang nampak di permukaan atau di panggung kehidupan kebanyakan adalah apa yang kaum zionis sebut sebagai “stupid pull parrot (pembeo yang bodoh)”. Zionis bekerja sebagai sutradara yang merancang semua skenario.

Sedangkan para aktor-aktornya secara sadar dan tak sadar mengikuti perintah sang tuan sutradara. Zionis secara halus bekerja merusak moral masyarakat menuju masyarakat tanpa agama, tanpa moral dan tanpa tuhan. Mereka bekerja dengan permainan istilah. Yang benar disalahkan dan yang salah dibenarkan. Perzinaan diistilahkan secara positif dengan sebutan sexual revolution. Budaya mengumbar aurat kaum wanita di istilahkan dengan modernisasi dan melepaskan kekangan tradisi lama. Bermabuk-mabukan diistilahkan sebagai style anak muda, dan lain-lain.

Bukti kuat lain bahwa zionis berada dibelakang ideologi hippies adalah munculnya ideologi new left pada generasi hippies ini. Ideologi ini merupakan reinkarnasi atau revitalisasi ajaran marxisme tentang kebencian terhadap sesama manusia yang disebut dengan dialetika materalisme. Dalam dialektika materialisme dipertentangkan antara kaum kaya (borjuis) di pihak yang antagonis dengan kaum miskin(proletar) dipihak yang protagonis.

Sedangkan dalam ideologi new left ini dialektika itu berubah menjadi pertentangan anata kaum muda yang anti kemapanan dengan kaum tua yang status quo. Jargon new left ini di populerkan melalui lagu Imagine yang diciptakan oleh John Lennon. Lagu ini menjadi salah satu simbol perjuangan kaum hippies dalam menentang peperangan. Lagu itu sarat dengan pesan-pesan marxisme : no heaven (tak ada surga), no hell (tak ada neraka), no possesion (tak ada kepemilikan), no country (tak ada negara). Dengan lagu inilah para hipies melakukan demo anti perang Vietnam namun dengan cara-cara anarki sehingga menimbulkan banyak korban baik sipil maupun dari kepolisian.

Kita dan ideologi hippies

Sesungguhnya negara Indonesia sejak awal Orde Baru telah menjadi laboratorium percobaan sekulerisme dan permisivefisme. Budaya hippies ini dapat dikatakan masuk tanpa hambatan berarti dari pemerintah Orde Baru. Hal ini ditandai dengan dikeluarkannya ijin secara mudah atas konser grup rock bercirikan hipppies, Deep Purple, di Indonesia pada era 70-an. Satu hal yang sebenarnya aneh bagi iklim politik Indonesia pada saat itu.

Karena regime Orde Baru di tahun 70-an menerapkan kebijakan politik yang represif terhadap setiap pertunjukan, sehingga untuk bisa tampil harus mendapatkan ijin yang panjang dan harus melalui screening institusi ABRI. Sehingga dapat disimpulkan bahwa regime Orde Barulah yang paling tahu dan bertanggung jawab terhadap derasnya arus liberalisasi dan ideologi hippies ini.

Sejak saat itulah bangsa ini, terutama para pelajar dan mahasiswa akrab dengan ideologi dan kebudayaan barat terutama ideologi hippies yang sedang trend pada masa tersebut. Kaum muda kita mulai akrab sedikit demi sedikit dengan gaya hidup hippies seperti seks bebas, drugs, clubbing, disko dan acara maksiat lainnya.

Kampus-kampus mulai akrab dengan pertunjukkan musik yang memang didukung oleh pemerintah Orde Baru dan sponsor dari perusahaan-perusahaan kapitalis. Seks bebas, clubbing, disko dan drugs perlahan telah menjadi ukuran kemodernan kaum muda kita.

Kemudian muncullah grup-grup musik yang berciri hippies, yaitu lagu bertema cinta yang mendayu-dayu dan tentang perdamaian dunia. Kemudian semakin berkembang sejak reformasi melanda negeri ini dimana kemunculan grup band layaknya seperti cendawan yang tumbuh dimusim hujan.

Dan perlu dicatat, grup-grup musik tersebut rata-rata menjadikan cinta sebagai tema dalam lagu-lagunya, dan hal ini secara langsung maupun tidak langsung merupakan pengaruh ideologi hippies

Bukan hanya lagu yang terpengaruh gaya hippies, bahkan dalam perilaku keseharian pun tidak bisa lepas dari gaya-gaya generation flower ini. Kawin cerai, perselingkuhan, pamer aurat, clubbing, drugs adalah cerita yang selalu di tampilkan para artis di acara gossip di televisi. Di lapisan masyarakatpun budaya seks bebas semakin merajalela. Seks bebas pun tidak hanya terjadi pada kalangan mahasiswa namun juga sudah ke remaja SMP. Bahkan yang lebih mengerikan adalah munculnya budaya merekam adegan zinah. Sekarang banyak beredar rekaman adegan zinah remaja melalui handphone dan internet. Tampaknya remaja sekarang sudah beranjak dari zinah sembunyi-sembunyi menuju zinah secara terang terangan.

Musik dalam pandangan ulama

Yusuf Qordhowi dalam Buku Fatwa Kontemporernya cenderung membolehkan musik namun dengan syarat tidak berisi kalimat kotor. Berikut kutipannya: Masalah nyanyian, baik dengan musik maupun tanpa alat musik, merupakan masalah yang diperdebatkan oleh para fuqaha kaum muslimin sejak zaman dulu. Mereka sepakat dalam beberapa hal dan tidak sepakat dalam beberapa hal yang lain. Mereka sepakat mengenai haramnya nyanyian yang mengandung kekejian, kefasikan, dan menyeret seseorang kepada kemaksiatan, karena pada hakikatnya nyanyian itu baik jika memang mengandung ucapan-ucapan yang baik, dan jelek apabila berisi ucapan yang jelek. Sedangkan setiap perkataan yang menyimpang dari adab Islam adalah haram.

Maka bagaimana menurut kesimpulan anda jika perkataan seperti itu diiringi dengan nada dan irama yang memiliki pengaruh kuat? Mereka juga sepakat tentang diperbolehkannya nyanyian yang baik pada acara-acara gembira, seperti pada resepsi pernikahan, saat menyambut kedatangan seseorang, dan pada hari-hari raya. Mengenai hal ini terdapat banyak hadits yang sahih dan jelas. Namun demikian, mereka berbeda pendapat mengenai nyanyian selain itu (pada kesempatan-kesempatan lain). Diantara mereka ada yang memperbolehkan semua jenis nyanyian, baik dengan menggunakan alat musik maupun tidak, bahkan dianggapnya mustahab.

Sebagian lagi tidak memperbolehkan nyanyian yang menggunakan musik tetapi memperbolehkannya bila tidak menggunakan musik. Ada pula yang melarangnya sama sekali, bahkan menganggapnya haram (baik menggunakan musik atau tidak). Dari berbagai pendapat tersebut, saya cenderung untuk berpendapat bahwa nyanyian adalah halal, karena asal segala sesuatu adalah halal selama tidak ada nash sahih yang mengharamkannya. Kalaupun ada dalil-dalil yang mengharamkan nyanyian, adakalanya dalil itu sharih (jelas) tetapi tidak sahih, atau sahih tetapi tidak sharih.

Sedangkan Ulama saudi yaitu, Aid Al-Qorni berpendapat sebaliknya yaitu mengharamkan musik. Ibnu Khaldun dalam muqoddimahnya menyatakan bahwa ada hubungan antara kejatuhan sebuah peradaban dengan meluasnya musik ini. Lebih lanjut, beliau menyatakan bahwa pada periode akhir dan menjelang runtuhnya sebuah peradaban ditandai dengan merebaknya kemewahan dan permainan musik. Kemewahan dan musik biasanya adalah hal yang tidak produktif dan menghabiskan sumber daya suatu negara tanpa ada value added. Masyarakat pada saat itu biasanya akan rentan terhadap serangan dari luar yang akan menghancurkan peradaban mereka

Dari berbagai pendapat tersebut umumnya berkisar pandangan ulama tentang musik dalam kehidupan bermasyarakat bukan musik sebagai alat da’wah. Sebagaimana yang katakan sebagian orang bahwa salah satu Wali Sanga dalam menyebarkan Islam menggunakan media musik. Namun dari sejarah perjuangan Nabi belum ada literatur yang menyatakan bahwa Rosulullah SAW menggunakan media musik sebagai media dakwahnya. Padahal musik pada saat tersebut adalah sesuatu yang lumrah dan exist ditengah masyarakat. Kesimpulannya adalah musik sebagai media dakwah tidaklah pernah dicontohkan oleh Rosulullah SAW.

Adapun kasus Wali Sanga tidaklah dapat dijadikan sandaran tentang kebolehan berda’wah melalui media musik ini. Sehingga menjadi sesuatu yang janggal pula apabila terdapat partai yang berlabel partai dakwah menggunakan musik dan grup-grup band sebagai alat kampanye dan da’wahnya. Padahal ulama tidak ada yang membolehkan musik dijadikan sebagai alat da’wah apalagi mewajibkannya. Terlebih lagi, grup-grup band yang dipakai umumnya bercirikan kaum hippies, memuja-muja cinta dan gaya hidup pemain band juga hippies.

Penutup

Sebagai kaum muslimin hendaknya kita mematuhi perintah Rosullulah SAW. “diantara tanda kebaikan keislaman seseorang adalah ia meninggalkan perkara yang tak berguna baginya (HR Tarmizi.).

Musik yang berkembang sekarang bukanlah sesuatu yang bermanfaat, malah didalamnya terkandung ideologi sesat pemuja syahwat. Meninggalkannya adalah yang paling selamat. Sedangkan menggunakannya untuk kepentingan da’wah adalah sesuatu yang patut dipertanyakan.

Wallahu’alam bishawab

Profil Penulis :

Muhammad Herry, mantan Pimred Bulletin Robbani yang terbit di Universitas Andalas, dan merupakan karyawan swasta

Filed under: - - - dari eramuslim.com |

Sumber-Sumber Dosa Manusia?

Sumber-Sumber Dosa Manusia?
Senin, 20/09/2010 13:59 WIB | email | print

oleh Mashadi

Manusia modern dikelilingi dengan dosa. Hakikatnya manusia modern sama dengan manusia di zaman jahiliyah. Mereka melakukan dosa dan maksiat dengan sengaja dan sadar. Mereka tidak takut dengan perbuatan mereka lakukan itu. Berbuat dosa seperti menjadi pilihan hidup mereka.

Mereka berbuat dosa, karena itu menjadi kenikmatan hidup mereka. Berzina, minum minuman keras, memakan makanan haram, dan perbuatan keji lainnya, semuanya mereka nikmati. Karena kemaksiatan sesuai dengan nafsu mereka.

Sesungguhnya dosa dan maksiat itu bertingkat-tingkat, dan kerusakan dan hukumannya berbeda pula. Namun, akar dan asal-usul dosa itu ada dua hal, pertama, meninggalkan perintah Allah, dan kedua melanggar larangan Allah. Maka, hakikatnya orang-orang mukmin yang muttaqin, ialah mereka yang dengan ikhlas melaksanakan perintah-Nya dan meninggalkan larangan-Nya. Inilah bentuk ketundukan, kepatuhan, dan berserah diri secara total kepada Allah Azza Wa Jalla.

Kemudian, dosa ini dibagi dalam empat kategori, yang masing-masing mempunyai pengaruh dalam kehidupan seseorang. Diantaranya :

Dosa mulkiyah, adalah perbuatan atau sifat makhluk yang mengadopsi sifat-sifat Allah. Seperti merasa suci, kultus, kesombongan, kesemena-menaan, merasa tinggi, kezaliman, menjajah, dan memperbudak manusia. Perbuatan ini masuk dalam katagori syirik (menyekutukan) Allah.

Karena, yang sering menjerumuskan manusia ke dalam perbuatan syirik, merasa suci, berlaku sombong dengan kekuasaan dan harta yang dimilikinya. Para penguasa, pemimpin gerakan, jamaah, partai, bisa berlaku sombong, disebabkan kekuasaan yang dimilikinya. Bisa mengatur, menentukan, memerintah, dan bahkan bertindak sewenang-wenang, dan tidak ada lagi yang berani mengingatkannya.

Dirinya bisa berlaku sebagai orang suci, yang kemudian dikultuskan pengikutnya, atau menciptakan tata-cara yang membuat para pengikutnya melakukan kultus, dan pemimpin itu seolah-olah berubah menjadi seorang tuhan, yang kemudian dapat menentukan nasib seseorang. Seseorang menjadi bergantung hidupnya kepada mereka yang memiliki kuasa. Entah itu para penguasa, pemimpin gerakan, jamaah, partai dan organisasi, jika tidak ada lagi yang dapat mengingatkan bisa berubah menjadi ‘tuhan’.

Barangsiapa yang menjadi pelaku jenis dosa ini, mak ia telah merampas ketuhanan dan kerajaan (kedaulatan) Allah dan menjadi tandingan bagi-Nya. Ini adalah dosa yang paling besar disisi Allah dan amal perbuatan yang baik tidak gunanya.

Betapa banyak manusia yang sekarang telah berlaku dan berubah dirinya menjadi tuhan, karena hanya sedikit memiliki kekuasaan, kekayaan, dan kesempatan (waktu), dan kemudian mereka mengubah sifat-sifat dasar mereka, dan mereka berubah menjadi ‘tuhan-tuhan’ yang sejatinya tidak layak.

Dosa syaithoniyah adalah dosa di mana palakunya menyerupai perilaku dan sifat setan, seperti melampui batas, penipuan, dengki, memakan harta yang haram, makar, memerintahkan perbuatan maksiat kepada Allah, menghiasi kemaksiatan dengan kebaikan, melarang melakukan ketaatan kepada Allah, melakukan bid’ah, serta mendakwahkan bid’ah dan kesesatan. Ini dosa yang akan menjerumuskan para pelakuknya ke dalam neraka jahanam.

Betapa banyak manusia yang berwujud manusia, tetapi perbuatan mereka seperti setan, dan menjadi hamba setan. Perbuatannya selalu durhaka dan melawan kepada Allah. Tidak mau bertahkim (berhukunm) dengan hukum Allah, dan hanya mengikuti hwa nafsunya, yang akhirnya menjerumuskan diri mereka ke dalam kesesatan yang nyata. Tetapi, mereka masih berani mengatakan yang mereka kerjakan adalah kebajikan. Inilah orang-orang yang sudah menjadi pengikut setan.

Dosa bahimiyah adalah binatang, yang menampakkan pelakunya berbuat kejam dan biadab, seperti menumpahkan darah, melakukan peperangan, menindas kaum yang lemah, dan menghancurkan kehidupan mereka. Dengan tanpa merasa menyesal atas perbuatan mereka.

Manusia berubah menjadi binatang buas, hanya mengikuti syahwat perut dan seksual. Dari sini lahir perzinahan, pencurian, memakan harta yang haram, memakan harta anak yatim, bakhil, pelit, penakut, keluh-kesah, yang menyebabkan manusisa sudah tidak lagi memiliki landasan hidup yang benar.

Manusia telah terjatuh ke dalam bentuk baru, sebagai binatang. Karena menjadi bahimiyah, dan menjauhkan dari perintah dan larangan dari Allah Ta’ala. Wallahu’alam .

Filed under: - - - dari eramuslim.com |

Facebook `Connecting` People

Facebook `Connecting` People
Senin, 08/02/2010 05:19 WIB | email | print

Oleh Radhia Busyra Mukhtar

Siapa yang tidak kenal Facebook…? Hampir seluruh orang mengenal salah satu layanan jaringan sosial ini, paling tidak walau belum terdaftar sebagai member tapi sudah terniat untuk ikut bergabung.

Mungkin mereka para pendahulu kita (red: nenek & kakek) juga tidak mengenal FB, tapi tidak tertutup juga kemungkinan ada diantara beliau-beliau yang masih tersisa jiwa dan semangat mudanya untuk ikut berpetualang di dunia maya yang bernama FB ini.

Tetapi sebagai seorang muslim apalagi seorang penuntut ilmu, sudah semestinya kita berhati-hati dengan sikap dan langkah kita saat berinteraksi dengan yang satu ini.

Saat itu ketika saya sedang membuka FB, tanpa sengaja pandangan saya tertuju pada sebuah saran Group yang kalau tidak salah bernama “Jangan Asal Tulis Status”. Saya tidak sempat bergabung, karena saat itu kurang fokus apalagi juga tidak betah lama-lama buka Facebook.

Tapi setelah keluar dari FB saya teringat kembali dan ingin mengenal lebih jauh group tersebut, sayang sekali saya belum menemukannya sampai saat menulis tulisan ini. Saya hanya ingin tahu apakah group itu hanya sekedar group yang dibuat-buat untuk menarik banyak anggota ataukah group yang benar-benar bertujuan sebagai wasilah saling mengingatkan kepada kebaikan.

Saya pikir, bagus sekali jika ada group yang seperti itu. Tapi baiknya dibuat dalam halaman Facebook agar setiap ada berita baru yang di-posting oleh halaman bersangkutan dapat tampil di dinding semua anggotanya. Sebaliknya, group tidak memiliki fasilitas demikian.

Saya perhatikan, banyak sekali mereka yang asal-asalan bikin status, yang saya rasa itu tidak penting dan bahkan terkadang tidak pantas untuk diketahui orang lain. Sebagai sesama muslim ini adalah perkara yang memprihatinkan bagi kita.

Dalam sebuah hadits yang diriwayatkan oleh Abu Hurairah radhiyallahu `anhu dia mengatakan, “Saya mendengar Rasulullah shallallahu `alaihi wa sallam bersabda :

“Setiap umatku akan diampuni, kecuali orang-orang yang berterus-terang dalam bermaksiat. Dan di antara perbuatan berterus-terang dalam bermaksiat ialah, bila seseorang melakukan kemaksiatan pada malam hari, lalu Allah telah menutupi perbuatannya, akan tetapi di pagi harinya ia malah berkata, ”Wahai fulan, sungguh tadi malam aku telah berbuat demikian dan demikian,” padahal Rabb-nya telah menutupi perbuatannya, justru ia malah menyingkap tabir Allah dari dirinya”. [Muttafaqun 'Alaih]

Berhati-hatilah saat berkecimpung di dunia maya, salah satunya saat berinteraksi menggunakan jejaring sosial yang hampir menguasai dunia ini. Mengapa pada judul tulisan ini kata `connecting` saya beri tanda khusus?

Karena makna connecting disini sangat luas maknanya bagi setiap orang yaitu menghubungkan satu orang dengan lainnya. Tentu saja, saya, anda, dan yang lain merasa telah dihubungkan dengan orang-orang yang sudah lama tak berjumpa atau jauh dari anda.

Bagi orang non-muslim mereka bebas memaknai kata ini. Sedangkan bagi kita umat muslim connecting disini berarti menjalin silaturahmi untuk kembali mempererat ukhuwah dalam rangka saling mengingatkan pada kebaikan dan mencegah dari kemungkaran.

Berpikirlah sebelum anda meng-update status, apakah status anda akan membuat orang berpikiran positif atau berpikiran negatif? Apakah status anda akan mengajak orang pada kebenaran atau malah membuat orang berbuat keji atau maksiat? Apakah dengan status anda akan membuat seseorang menilai pribadi anda (terutama wanita).

Contoh ringan saja, seorang wanita menulis status “Hm… segernya habis keramasan” atau ungkapan hati yang lagi marah “Dasar loe…!Kurang ajar…!” dan lain sebagainya. Ketika orang yang berkomentar berpikiran negatif maka anda sudah termasuk pada orang yang membuat sunnah jelek, tapi orang yang berkomentar untuk menasihati dan mengingatkan pada kebaikan maka dia telah termasuk dalam ayat :

“Kamu sekalian adalah sebaik-baik umat yang dilahirkan untuk manusia, yang menyuruh kepada yang ma’ruf dan mencegah dari yang mungkar serta beriman kepada Allah” (Q.S. Āli ‘Imrân : 110).

Sebenarnya perihal meng-update ini tidak hanya status, juga update foto profil atau membuat album. Foto seorang wanita yang memakai pakaian muslimah secara syar`i saja, tak jarang dapat menimbulkan fitnah bagi kaum laki-laki apalagi yang tidak menutup aurat, memperlihatkan mahkotanya (tidak berjilbab) bahkan jika sampai menampakkan aurat yang lainnya, na`udzubillahi min dzalik. Apakah ia sanggup menanggung beban dosa orang-orang yang mencontoh apa yang ia perbuat?

Dalam sebuah hadits Rasul : “Dan barang siapa membuat sunnah jelek dalam Islam maka baginya dosanya dan dosa orang-orang yang mengamalkannya setelahnya tanpa berkurang sedikitpun dosa-dosa mereka.” (HR. Muslim)

Jangan sampai kecanggihan teknologi membuat kita lupa dengan jati diri muslim kita, jangan sampai akibat prilaku dan tingkah kita yang tidak mau menuruti aturan agama orang lain jadi berdosa, mungkin saat itu kita lupa bahwa dosa-dosa mereka itu akan menambahkan timbangan dosa kita tanpa mengurangi dosa-dosa mereka sedikitpun.

Alangkah baiknya jika yang kita tuliskan berupa kebaikan, mengajak orang untuk semakin mendekatkan diri pada Allah swt dan mencintai Rasulullah saw, membuat orang yang sedang putus semangat atau hilang semangat hidup semakin optimis dengan membaca status anda, membuat orang lain terinsprasi oleh status anda untuk ikut mengajak pada kebaikan.

“Barang siapa membuat sunnah baik dalam Islam maka baginya pahalanya dan pahala orang-orang yang mengamalkannya setelahnya, tanpa berkurang sedikitpun pahala mereka.” (HR. Muslim)

Kita berlindung kepada Allah dari orang-orang yang mengajak kepada kekejian. Tulisan ini adalah untuk saya, anda, dan mereka yang terdekat di sekitar kita, saudara-saudari semuslim kita serta para sasaran dakwah kita. Jika kita seorang istri maka jagalah `iffah diri kita, karena penjagaan seorang istri terhadap dirinya berarti telah menghargai dan menjaga kehormatan suaminya, insya Allah syurga bagi istri yang shalihah.

Jika kita adalah seorang anak, maka jagalah diri kita karena hakikatnya seorang manusia yang sudah baligh maka bagi dirinya sendirilah balasan (dosa/pahala) akibat perbuatannya. Orang tua hanya berkewajiban menasihati walau akan menanggung malu di dunia, tapi di akhirat pertanggung jawaban adalah dari individu masing-masing.

Salam ukhuwah!
Ummu Fathma
basimatulkhairah@yahoo.com

Filed under: - - - dari eramuslim.com

Pentingnya Sholat Berjamaah di Masjid

Sebagian ummat Islam masih membiasakan diri mengerjakan sholat lima waktu di rumah atau di kantor tempat ia bekerja. Sangat sedikit yang membiasakan sholat lima waktunya berjamaah di masjid atau musholla di mana azan dikumandangkan. Bahkan ada sebagian saudara muslim yang membiasakan dirinya sholat seorang diri alias tidak berjama’ah. Padahal terdapat sekian banyak pesan dari Nabi Muhammad shollallahu ’alaih wa sallam yang menganjurkan ummat Islam –terutama kaum pria- sholat berjama’ah di masjid tempat di mana azan dikumandangkan.

عَنْ عَبْدِ اللَّهِ قَالَ مَنْ سَرَّهُ أَنْ يَلْقَى اللَّهَ غَدًا مُسْلِمًا فَلْيُحَافِظْ عَلَى هَؤُلَاءِ الصَّلَوَاتِ حَيْثُ يُنَادَى بِهِنَّ فَإِنَّ اللَّهَ شَرَعَ لِنَبِيِّكُمْ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ سُنَنَ الْهُدَى وَإِنَّهُنَّ مِنْ سُنَنِ الْهُدَى وَلَوْ أَنَّكُمْ صَلَّيْتُمْ فِي بُيُوتِكُمْ كَمَا يُصَلِّي هَذَا الْمُتَخَلِّفُ فِي بَيْتِهِ لَتَرَكْتُمْ سُنَّةَ نَبِيِّكُمْ وَلَوْ تَرَكْتُمْ سُنَّةَ نَبِيِّكُمْ لَضَلَلْتُمْ وَمَا مِنْ رَجُلٍ يَتَطَهَّرُ فَيُحْسِنُ الطُّهُورَ ثُمَّ يَعْمِدُ إِلَى مَسْجِدٍ مِنْ هَذِهِ الْمَسَاجِدِ إِلَّا كَتَبَ اللَّهُ لَهُ بِكُلِّ خَطْوَةٍ يَخْطُوهَا حَسَنَةً وَيَرْفَعُهُ بِهَا دَرَجَةً وَيَحُطُّ عَنْهُ بِهَا سَيِّئَةً وَلَقَدْ رَأَيْتُنَا وَمَا يَتَخَلَّفُ عَنْهَا إِلَّا مُنَافِقٌ مَعْلُومُ النِّفَاقِ وَلَقَدْ كَانَ الرَّجُلُ يُؤْتَى بِهِ يُهَادَى بَيْنَ الرَّجُلَيْنِ
حَتَّى يُقَامَ فِي الصَّفِّ (صحيح مسلم)

Ibn Mas’ud radhiyallahu ’anhu berkata: “Barangsiapa ingin bertemu Allah esok hari sebagai seorang muslim, maka ia harus menjaga benar-benar sholat pada waktunya ketika terdengar suara adzan. Maka sesungguhnya Allah subhaanahu wa ta’aala telah mensyari’atkan (mengajarkan) kepada Nabi shollallahu ’alaih wa sallam beberapa SUNANUL-HUDA (perilaku berdasarkan hidayah/petunjuk) dan menjaga sholat itu termasuk dari SUNANUL-HUDA. Andaikan kamu sholat di rumah sebagaimana kebiasaan orang yang tidak suka berjama’ah berarti kamu meninggalkan sunnah Nabimu Muhammad shollallahu ’alaih wa sallam. Dan bila kamu meninggalkan sunnah Nabimu Muhammad shollallahu ’alaih wa sallam pasti kamu tersesat. Maka tidak ada seseorang yang bersuci dan dia sempurnakan wudhunya kemudian ia berjalan ke masjid di antara masjid-masjid ini kecuali Allah subhaanahu wa ta’aala mencatat bagi setiap langkah yang diangkatnya menjadi kebaikan yang mengangkat derajatnya dan bagi setiap langkah yang diturunkannya menjadi penghapus kesalahannya. Dan sungguh dahulu pada masa Nabi Muhammad shollallahu ’alaih wa sallam tiada seorang tertinggal dari sholat berjama’ah kecuali orang-orang munafiq yang terang kemunafiqannya. Sungguh adakalanya seseorang itu dihantar ke masjid didukung oleh dua orang kanan kirinya untuk ditegakkan di barisan saf.” (HR Muslim 3/387).

Berdasarkan hadits di atas sekurangnya terdapat beberapa pelajaran penting:
Pertama, seseorang yang disiplin mengerjakan sholat saat azan berkumandang akan menyebabkan dirinya diakui sebagai seorang muslim saat bertemu Allah subhaanahu wa ta’aala kelak di hari berbangkit. Sungguh suatu kenikmatan yang luar biasa…! Pada hari yang sangat menggoncangkan bagi semua manusia justru diri kita dinilai Allah subhaanahu wa ta’aala sebagai seorang hamba-Nya yang menyerahkan diri kepada-Nya. Kita tidak dimasukkan ke dalam golongan orang kafir, musyrik atau munafiq.

مَنْ سَرَّهُ أَنْ يَلْقَى اللَّهَ غَدًا مُسْلِمًا فَلْيُحَافِظْ عَلَى هَؤُلَاءِ الصَّلَوَاتِ حَيْثُ يُنَادَى بِهِنَّ

”Barangsiapa ingin bertemu Allah esok hari sebagai seorang muslim, maka ia harus menjaga benar-benar sholat pada waktunya ketika terdengar suara adzan.”

Kedua, menjaga sholat termasuk kategori aktifitas SUNANUL-HUDA (perilaku atau kebiasaan berdasarkan pertunjuk Ilahi). Barangsiapa memelihara pelaksanaan kewajiban sholat lima waktu setiap harinya berarti ia menjalani hidupnya berdasarkan petunjuk dan bimbingan Allah subhaanahu wa ta’aala. Berati ia tidak membiarkan dirinya hidup tersesat sekedar mengikuti hawa nafsu yang dikuasai musuh Allah subhaanahu wa ta’aala, yakni syaitan.

فَإِنَّ اللَّهَ شَرَعَ لِنَبِيِّكُمْ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ سُنَنَ الْهُدَى وَإِنَّهُنَّ مِنْ سُنَنِ الْهُدَى

”Maka sesungguhnya Allah subhaanahu wa ta’aala telah mensyari’atkan (mengajarkan) kepada Nabi shollallahu ’alaih wa sallam beberapa SUNANUL-HUDA (perilaku berdasarkan hidayah/petunjuk) dan menjaga sholat itu termasuk dari SUNANUL-HUDA.”

Ketiga, sholat di rumah identik dengan meninggalkan sunnah Nabi Muhammad shollallahu ’alaih wa sallam. Padahal tindakan meninggalkan sunnah Nabi Muhammad shollallahu ’alaih wa sallam merupakan gambaran raibnya cinta seseorang kepada Nabinya Muhammad shollallahu ’alaih wa sallam. Sebaliknya, bukti cinta seseorang akan Nabi Muhammad shollallahu ’alaih wa sallam adalah kesungguhannya untuk melaksanakan berbagai sunnah beliau, Nabi Muhammad shollallahu ’alaih wa sallam.

وَلَوْ أَنَّكُمْ صَلَّيْتُمْ فِي بُيُوتِكُمْ كَمَا يُصَلِّي هَذَا الْمُتَخَلِّفُ فِي بَيْتِهِ لَتَرَكْتُمْ سُنَّةَ نَبِيِّكُمْ

”Andaikan kamu sholat di rumah sebagaimana kebiasaan orang yang tidak suka berjama’ah berarti kamu meninggalkan sunnah Nabimu Muhammad shollallahu ’alaih wa sallam.”

Keempat, meninggalkan sunnah Nabi akan menyebabkan seseorang menjadi TERSESAT. Berarti tidak lagi hidup di bawah naungan bimbingan dan petunjuk Allah. Sungguh mengerikan, bilamana seorang muslim merasa menjalankan kewajiban sholat, namun karena ia kerjakannya tidak di masjid, maka hal itu menyebabkan dirinya menjadi tersesat dari jalan yang lurus…! Na’udzubillaahi min dzaalika.

وَلَوْ تَرَكْتُمْ سُنَّةَ نَبِيِّكُمْ لَضَلَلْتُمْ

”Dan bila kamu meninggalkan sunnah Nabimu Muhammad shollallahu ’alaih wa sallam pasti kamu tersesat.”

Kelima, barangsiapa menyempurnakan wudhu lalu berjalan ke masjid, maka hal itu akan mendatangkan kenaikan derajat dan penghapusan kesalahan.

وَمَا مِنْ رَجُلٍ يَتَطَهَّرُ فَيُحْسِنُ الطُّهُورَ ثُمَّ يَعْمِدُ إِلَى مَسْجِدٍ مِنْ هَذِهِ الْمَسَاجِدِ إِلَّا كَتَبَ اللَّهُ لَهُ بِكُلِّ خَطْوَةٍ يَخْطُوهَا حَسَنَةً وَيَرْفَعُهُ بِهَا دَرَجَةً وَيَحُطُّ عَنْهُ بِهَا سَيِّئَةً

”Maka tidak ada seseorang yang bersuci dan dia sempurnakan wudhunya kemudian ia berjalan ke masjid di antara masjid-masjid ini kecuali Allah subhaanahu wa ta’aala mencatat bagi setiap langkah yang diangkatnya menjadi kebaikan yang mengangkat derajatnya dan bagi setiap langkah yang diturunkannya menjadi penghapus kesalahannya.”

Keenam, Ibnu Mas’ud radhiyallahu ’anhu menggambarkan bahwa pada zaman Nabi Muhammad shollallahu ’alaih wa sallam masih hidup di tengah para sahabat radhiyallahu ’anhum jika ada yang tertinggal dari sholat berjamaah maka ia dipandang identik dengan orang munafiq sejati

وَلَقَدْ رَأَيْتُنَا وَمَا يَتَخَلَّفُ عَنْهَا إِلَّا مُنَافِقٌ مَعْلُومُ النِّفَاقِ

”Dan sungguh dahulu pada masa Nabi Muhammad shollallahu ’alaih wa sallam tiada seorang tertinggal dari sholat berjama’ah kecuali orang-orang munafiq yang terang kemunafiqannya.”

Ketujuh, di zaman Nabi Muhammad shollallahu ’alaih wa sallam sedemikian bersemangatnya orang menghadiri sholat berjamaah di masjid sampai-sampai ada yang dipapah dua orang di kiri-kanannya agar ia bisa sholat berjamaah di masjid

وَلَقَدْ كَانَ الرَّجُلُ يُؤْتَى بِهِ يُهَادَى بَيْنَ الرَّجُلَيْنِ حَتَّى يُقَامَ فِي الصَّفّ

”Sungguh adakalanya seseorang itu dihantar ke masjid didukung oleh dua orang kanan kirinya untuk ditegakkan di barisan saf.”

Ya Allah, berkahi, mudahkan dan kuatkanlah kami untuk selalu sholat lima waktu berjama’ah di masjid bersama saudara muslim kami lainnya. Amin.-

Filed under: - - - dari eramuslim.com |

Salat Dalam Kehidupan Seorang Muslim

oleh Ustadz Samson Rahman

Salat merupakan tali pengikat ruhani yang sangat kuat antara seorang hamba dengan Penciptanya. Hubungan yang melambangkan kehinadinaan hamba di hadapan Tuhannya dan keagungan Sang Khaliq di depan hamba-Nya. Salat dengan gamblang menggambarkan kekecilan seorang hamba dan kebesaran Allah. Salat adalah sarana munajat mendekatkan diri kepada Allah.

Salat adalah tangga ruh dan kalbu orang-orang yang merindu Allah..Dengan salat mereka merajut malam di mihrab-mihrab mahabbah dan syauq sambil bercengkerama penuh nikmat dengan Tuhannya yang sedang membuka tirai-tirai langit bagi orang-orang yang sedang istighfar dan munajat. Lambungnya segan berdekatan dengan kasur-kasur empuk.

Mereka berdoa pada Tuhannya dengan air linangan air mata harap dan cemas Hati mereka terasa hangat tatkala lambingan munajat mereka panjatkan di relung-relung malam yang senyap. mereka menyibak awan dan gemintang dengan alunan panjang tasbih dan tahmid kepada Tuhan. Mereka getarkan pintu-pintu langit munajat cinta yang senantiasa bergelora di titian malam yang pendek..

Salat adalah tiang agama dan penyangga rusuk-rusuk dan organ-organ agama yang lain. Jika tiang utama hancur maka kelumpuhan akan segera terjadi pada organ-organ yang lain. Jika tiang utama ini melemah maka kehidupan agama tidak bisa diharapkan bergerak kembali. Keletihan jiwa akan merasuk kelumpuhan ruhani akan menjadi epedemi.

Salat sangat berpengaruh pada pembentukan akhlak dan moralitas seseorang. Dia mampu menjadi imunisasi paling manjur bagi pelakunya untuk terjauhkan dari semua kekejian dan kejahatan. Dia menjadi obat paling mujarab yang menentramkan jiwa para pelakunya dan mampu mencegah pelakunya untuk tidak terjebak dalam kerakusan dan ketamakan. Dia akan mampu menjaga pelakunya untuk senantiasa bersikap rendah hati dan tawadhu’ di hadapan siapa saja. Dia akan mampu mendongkrak harga diri pelakunya di hadapan siapapun yang menyombongkan diri di hadapan Allah.

Salat adalah munajat dan doa. Ia adalah taubat dan inabah. Ia adalah tasbih dan istighfar, tahmid dan takbir serta tahlil yang teramu dalam sebuah untaian prosesi indah menggapai nikmat pertemuan dengan Kekasih.

Salat menjadi terminal seorang hamba dalam perjalanan hidupnya untuk sejenak bersuka-ria bertemu dengan Tuhannya, Sang Maha Diraja. Dalam salatlah mereka merasakan kenikmatan ruhani dan jiwa yang sangat sensasional.. Bahkan ada yang mengatakan : Andaikata penduduk bumi tahu kenikmatan yang kami rasakan saat kami salat, pastilah mereka akan memenggal kepala kami dengan pedang-pedang nan tajam.

Dalam salat, kita menyucikan-Nya, bermunajat dengan firman-firman-Nya. Kita ruku’ dan sujud pada-Nya. Kita renungi kembali asal penciptaan kita yang berasal dari tanah dan unsur-unsur alam yang ada. Dari bahan tersebut, Dia melengkapi kita dengan kemauan dan kekuatan sehingga kita mampu menyucikan, menjunjung, menahan tuntutan fisik dan syahwat, meluruskan instink, menggelorakan kecenderungan menegakkan kesucian dan berusaha melawan penyimpangan-penyimpangan yang mengarah pada kekejian dan kejahatan.

Salat merupakan sarana mendidik jiwa dan memperbaharui semangat serta sebagai penyucian akhlak. Ia adalah tali penguat pengendali diri, pelipur lara, penyejuk jiwa dan pengaman dari rasa takut dan cemas. Ia akan menghancurkan kelemahan dan akan menjadi senjata ampuh bagi mereka yang merasa terasingkan.

Salat membersihkan jiwa dari sifat-sifat buruk. Dia akan menyingkirkan dunia dari hati pelakunya dan akan meletakkannya di telapak tangannya. Dia akan mencari dunia untuk dikendalikan dan bukan dunia yang mengendalikan dirinya.

Salat adalah kebun ibadah yang di dalamnya penuh dengan segala yang menyenangkan dan menggembirakan. Ada takbir, ada ruku’, ada berdiri, ada sujud, ada duduk dan tahiyyat yang di dalamnya penuh dengan munajat. Ia adalah cahaya yang ada di dalam hati seorang mukmin dan nur yang akan memberikan penerangan kala mereka dikumpulkan di padang mahsyar. Sebagaimana Rasulullah sabdakan :

الصلاة نور

Salat itu adalah cahaya (HR. Muslim).

Dengan salat kita minta pertolongan kepada Allah dengan segala kerendahan jiwa yang terekspresikan lewat ruku’ dan sujud, yang terekam dalam semarak doa dan munajat.

واستعينوا بالصبر والصلاة وإنها لكبيرة إلا على الخاشعين

Dan mintalah pertolongan (kepada Allah) dengan sabar dan (mengerjakan) shalat. Dan sesungguhnya yang demikian itu sungguh berat, kecuali bagi orang-orang yang khusyuk (Al-Baqarah : 45).

Salat akan terasa berat jika kekhusyuaan kita demikian hampa, ia akan terasa beban jika kita tidak merindukan pertemuan dengan Sanga Mahakasih. Sebaliknya salat akan terasa nikmat bagi orang-orang yang khusyu’, bagi mereka yang menjadikan salat sebagai tangga menuju pertemuan dengan Sang Khalik. Salat yang benar akan senantiasa mampu menjadi tameng dari maksiat-maksiat yang mungkin akan menenggelamkan ruhani kita dan merubuhkan pilar keimanan kita, serta mematikan potensi keihsanan kita :

اتل ما أوحي إليك من الكتاب وأقم الصلاة إن الصلاة تنهى عن الفحشاء والمنكر ولذكر الله أكبر والله يعلم ما تصنعون

Bacalah apa yang telah diwahyukan kepadamu, yaitu Al Kitab (Al Qur’an) dan dirikanlah shalat. Sesungguhnya shalat itu mencegah dari (perbuatan-perbuatan) keji dan mungkar. Dan sesungguhnya mengingat Allah (shalat) adalah lebih besar (keutamaannya dari ibadah-ibadah yang lain). Dan Allah mengetahui apa yang kamu kerjakan (Al-Ankabuut : 45).

Barang siapa yang menjaga salatnya, maka salat itu menjadi cahaya dan keterangan (bukti) serta penyelamat baginya di hari kiamat (HR. Ahmad, Ibnu Hibban dan Thabrani).

Meruyaknya kejahatan di tengah kita bisa saja terjadi yang berupa pemyimpangan, kekejian kekotoran-kekotoran ruhani sangat mungkin terjadi karena salat kita tidak lagi ada bobot nilai-nilai ilahiyahnya. Salat kita hanya berupa rangka-rangka dan gerak yang hampa ruhani. Salat kita laksana mayat yang tanpa ruh, salat kita telah mati saat kita melakukannya.

Ironi, jika peringatan rutin peristiwa Isra’ Mi’raj ya setiap tahun tidak melahirkan salat khusyu’ yang mampu menggetarkan nurani dan menembus hingga ke langit. Salat yang hampa kekhusyu’un dan hampa kerendahan hati akan melahirkan kehampaan-kehampaan baru yang tiada henti.

Maka, sudah saatnylah kita jadikan salat sebagai sumber cahaya yang akan menerangi perjalanan kita menuju Allah Yang Maha Kuasa.

Dengan salat jiwa kita menjadi tentram, sejuk dan segar. Karena dalam salat aliran ketentraman dari langit terus mengalir. Tanpa henti.

Filed under: - - - dari eramuslim.com |

Agar Hati Selalu Damai

Agar Hati Selalu Damai
Kamis, 07/08/2008 06:20 WIB | email | print

Assalamu’alaikum Wr Wb

1.Ustadz, bagaimana caranya membuat Hati kita agar selalu damai

2. Ustadz bagaimana caranya menghadapi teman yang ingin mengetahui kehidupan secara jauh?

probolinggo
Jawaban

Wa’alaikum salam wr wb.

Ananda yang saya hormati, hati akan selalu damai bila kita dapat mengelolanya dengan baik. Dan mengelola yang baik adalah dengan mengikuti petunjukan Sang Pembuat hati tersebut yakni Allah SWT yang dalam firmanNya menyatakan “Ingatlah, hanya dengan mengingati Allah-lah hati menjadi tenteram.” (QS. Ar Ra’d (13) ayat 28).

Lalu bagaimana cara mengingat Allah? Lakukan dengan POWER. Power yang berati menguatkan diri untuk selalu dekat dengan Allah dan juga sebagai rumus sebagai berikut: Pelajari sejarah orang-orang besar (shaleh). Obati hati dengan Al-Qur’an, Waspada dengan kemaksiatan. Enyahkan kemalasan dan Rendah hati jangan dilupa.

Pelajari sejarah orang-orang besar. Cobalah kita menyimak perjalanan orang-orang shaleh yang dengan sungguh-sungguh mebersihkan hati dan dirinya untuk menjadi inssn yang bertaqwa. Para nabi dan rasul serta sahabat termasuk juga orang-orang yang kembali ke jalan Ilahi yang sebelumnya hidup dalam kemaksiatan dapat kita ambil pelajaran dan hikmahnya. Betapa teguh dan gigihnya mereka untuk mempertahankan dan mengaktualisasikan imannya. Mereka harus melewati segala rintangan dan ujian dari yang ringan hingga yang berat. Dari sekedar caci maki, sindiran, dikucilkan hingga jiwanya menjadi korban pun ia siap semata-mata hanya untuk selalu dekat dan bersama Allah SWT. Baca buku-buku perjalanan para Nabi atau Sahabat atau juga Tokoh-tokoh kontemporer yang hanya karena ia komitmen untuk menjadi Muslim sejati, ia siap untuk mengorbankan segalanya.

Obati hati dengan Al-Qur’an. Sebagaimana kita ketahui bahwa nama lain dari Al-Qur’an adalah As Syifa’ yang berarti Obat. Artinya bahwa hati ini akan bisa lebih tenang bila kita merasa selalu bersama Allah. Dan untuk itu hendaklah kita selalu mendengarkan dan membacakan apa-pa yang telah Allah Firmankan. Dengan kata lain sering-seringlah membaca Al-Qur’an dengan rutin dan pelajari isinya melalui sarana pengajian atau majelis taklim, karena dengan demikian hati kita selalu terisi dengan cahaya-cahaya Ilahi.

Waspada kemaksiatan. Hindari segala macam jalan yang akan menuju kita ke arah kemaksiatan. Jangankan untuk berbuat namun harus dihindari sebelumnya artinya lebih kepada tindakan preventif (pencegahan), sebagaimana Allah memfirmankan untuk tidak mendekati zina, bukan untuk tidak berbuat zina. Bentengi diri dari berbagai macam kemaksiatan baik dari yang kecil maupun yang besar.

Enyahkan kemalasan. Mari kita mendobrak kemalasan. Ya, malas memulai melakukan sesuatu adalah dalih yang paling berbahaya. Hal ini karena ia membunuh potensi Anda. Ketika rasa malas muncul, Anda akan tampil di bawah performance maksimal Anda, sehingga Anda menjadi kurang bernilai dan kurang bermanfaat di hadapan diri sendiri dan orang lain. Padahal Nabi telah menganjurkan setiap orang agar bermanfaat untuk lingkungannya. “Yang paling baik di antaramu adalah orang yang paling banyak manfaatnya bagi orang lain.” Termasuk malas untuk melaksanakan segala apa yang telah Allah perintahkan baik itu yang bersifat wajib maupun sunnah.

Banyak alasan dari belum melakukan sesuatu, mungkin karena sibuk dengan kegiatan lain, belum merasa urgen (terdesak), belum merasakan manfaatnya, belum memiliki kemampuan, dan lain-lain. Anda mempunyai berbagai alasan terhadap ketidakmauan Anda melakukan sesuatu. Namun alasan yang paling berbahaya adalah ketika Anda tidak melakukan sesuatu karena malas memulainya!.

Jangan pernah merasa takut bila menganggap Allah tidak akan menerima amalan kita karena kita telah banyak dosa. Namun yakinlah bahwa Allah tidak akan sedikit pun lengah untuk melihat dan mencatat segala amalan-amalan baik kita kapanpun dan di manapun kita berada.Pola hidup inilah yang harus dimiliki orang-orang yang optimis dan tak mengenal putus asa. Karena putus asa hanya milik orang yang kafir terhadap nikmat Allah, bukan milik orang yang beriman kepada Allah. “Sesungguhnya tiada berputus asa dari rahmat Allah, kecuali orang yang kafir” (QS. 12: 87).

Rendah hati jangan di lupa. Kerendahan hati (tawadhu) adalah sifat yang harus kita miliki jika ingin sukses. Kerendahan hati adalah lawan kata dari takabbur (sombong). Seseorang belum dikatakan rendah hati kecuali jika telah melenyapkan kesombongan yang ada dalam, dirinya. Semakin kecil sifat kesombongan dalam diri seseorang, semakin sempurnalah ketawadhu’annya dan begitu juga sebaliknya.

Impelentasi dari rendah hati adalah bahwa ia harus selalu bersyukur akan segala nikmat yang Allah berikan. Ia tidak merasa gundah gulana melihat orang lain mempunyai kelimpahan harta da kemewahan. Ia juga tidak merasa sombong dengan apa yang dimilikinya dibandingkan mereka yang memiliki kekurangan. Hanya Allahlah tempat ia bersyukur dan mensykuri segala nikmat yang diberikannya dengan hanya mengharap segala keridhoan dariNya dengan apa yang telah diberikan.

Insya Allah dengan kita menjalankan POWER, kita akan merasa dekat dengan Allah. Dan bila kita dekat dengan Allah, hati kitapun akan tenang, tentram dan damai.

Adapun teman Anda yang ingin mengetahui seluk beluk kehidupan Anda. Tanyakanlah apa manfaat dan keperluannya ia perlu mengetahui kepribadian Anda? Kalau mememang tidak ada manfaat dan kebaikan baginya tentang Anda lebih baik Anda menghindar dan tidak usah untuk melayaninya, karena hal itu hanya perbuatan yang sia-sia dan cenderung kepada perbuatan yang mengarah pada gosip semata dan menambah dosa.

Semoga bermanfaat.

Filed under: - - - dari eramuslim.com

Ingin Putus Dari Pacar

Ingin Putus Dari Pacar
Senin, 01/02/2010 12:29 WIB | email | print

Assalamu’alaikum Wr.Wb.

saya adalah seorang muslimah umur 25 thn, saat ini sedang menjalin hubungan dengan seorang laki2.Pada saat awal kenal sifatnya sangat baik tetapi semakin kesini banyka perubahan. Dia banyak mengumbar janji tapi tidak semua ditepati. Setiap saya ingin melihat KTPnya dia marah. Pemahaman gamanya juga kurang. Ketika saya minta putus tidak pernah dikabulkan. Bila putus dia mengncam saya akan bunuh diri dan apabila saya menikah dengan orang lain akan menghancurkan hidup saya. Terus terang saya sangat ketakutan dan mulai tidak tentram , saya ingin dilepaskan secara baik2 dan diikhlaskan untuk menempuh jalan hidup yang saya inginkan. Terus terang setelah menjali hubungan dengan dia banyak kemaksiatan yang saya lakukan. Saya ingin bertobat kepada ALLAHSWT 100%. dia berjanji akan menikahi saya tapi selalu menulur waktu. Tapi semakin kesini semakin kelihatan pribadi yang sesungguhnya. Kadang saya berpikir untuk ikhtiar ke orang pintar agar bisa putus tapi sya takut dekat dengan syirik. Pertanyaan saya:

1. Bagaimana agar bisa putus dengannya karena dia sangat sensitif juga orangnya nekat dan emosian?

2. Apakah saya layak mendapatkan jodoh soleh karena telah banyak maksiat yang saya lakukan terhadap pacar saya?

3. Bagaimana mengatasi rasa takut terhadap pacar saya yang temperamen?terus terang saya merasa terkekang dengan sifat temperamen?

Apriliani
Jawaban

Saudari Apriliani yang dirahmati oleh Allah SWT, saya turut prihatin dengan keadaan Anda saat ini. Saya mendukung langkah Anda untuk memutuskan hubungan dengan pacar Anda yang jelas-jelas kepribadiannya tidak baik.

Ada beberapa langkah yang dapat Anda lakukan untuk putus dengan pacar Anda :

1. Siapkan mental Anda untuk tidak takut kepada pacar Anda. Ingat! Yang perlu kita takutkan hanya Allah SWT. “Sesungguhnya mereka itu tidak lain hanyalah syaitan yang menakut-nakuti (kamu) dengan kawan-kawannya (orang-orang musyrik Quraisy), karena itu janganlah kamu takut kepada mereka, tetapi takutlah kepadaKu, jika kamu benar-benar orang yang beriman” (QS. 3 : 175). Ketahuilah wahai saudariku, bahwa jika Anda hanya takut kepada Allah maka Allah akan menjaga Anda dan kalau Allah menjaga Anda maka tidak ada seorang pun yang dapat mencelakakan Anda.

2. Sampaikan kepada pacar tentang keinginan Anda untuk putus. Sampaikan dengan bahasa yang lugas dan tegas. Jika ia bertanya mengapa sebabnya Anda memutuskan dia, jawablah bahwa dia tidak cocok untuk Anda dan Anda tidak lagi mencintainya. Jangan memberikan tenggang waktu kepadanya untuk memperbaiki diri karena Anda sudah tahu bahwa ia sulit berubah. Tetaplah konsisten dan jangan kasihan kepadanya jika ia memohon atau bahkan menangis, karena itu hanya taktik lelaki saja untuk bisa kembali kepada pasangannya.

3. Setelah Anda memutuskan dia, konsistenlah untuk tidak menanggapi dia. Hubungan komunikasi, apalagi keinginan kembali dari pacar Anda, jangan direspon. Anda harus tetap bersikap tegas dan konsisten. Jangan tergoda dan terbujuk dengan rayuannya. Ingat! Salah satu penyebab mengapa pacar yang diputuskan terus mengganggu adalah karena kita sendiri tidak tegas memberikan isyarat putus tanpa kompromi, baik dengan bahasa kata maupun dengan bahasa tubuh (body language). Kadangkala bahasa kata kita tegas, tetapi bahasa tubuh kita tidak tegas. Misalnya, masih mau didekati, masih menatap dengan pandangan cinta, dan lain-lain. Sekali lagi, Anda harus tegas dalam memutuskan dia, baik dengan bahasa kata maupun dengan bahasa tubuh.

4. Jangan takut dengan ancaman pacar Anda karena kebanyakan ancaman tersebut hanya gertak sambal saja. Sebagian lelaki menggunakan taktik menggertak dan merayu untuk meruntuhkan hati wanita pujaannya. Oleh sebab itu, Anda harus mengandalkan logika daripada perasaan agar tidak mudah terpengaruh oleh tipu dayanya.

5. Terus berdoa kepada Allah untuk meminta perlindungannya. Minta kepada Allah agar hati Anda dan pacar Anda dibersihkan dari perasaan cinta satu sama lain. Lalu untuk sementara waktu sebaiknya Anda tidak bepergian sendirian untuk berjaga-jaga apabila ia melakukan tindakan nekat dan agar Anda juga terus diingatkan oleh orang lain untuk menjauhi pacar Anda.
Lalu tentang pertanyaan Anda, apakah masih bisa mendapatkan jodoh yang baik maka hal tersebut tergantung dari diri Anda sendiri. Jika Anda bertaubat dan terus memperbaiki diri, Insya Allah jodoh yang baik akan Anda dapat. Sebagaimana firman-Nya : “Wanita-wanita yang keji adalah untuk laki-laki yang keji, dan laki-laki yang keji adalah buat wanita-wanita yang keji (pula), dan wanita-wanita yang baik adalah untuk laki-laki yang baik dan laki-laki yang baik adalah untuk wanita-wanita yang baik (pula). Mereka (yang dituduh) itu bersih dari apa yang dituduhkan oleh mereka (yang menuduh itu). Bagi mereka ampunan dan rezki yang mulia (surga)” (QS. 24 : 26).

Demikian saran saya, semoga berkenan.

Salam Berkah !

(Satria Hadi Lubis)

Filed under: - - - dari eramuslim.com |

Hukum Berpacaran

Hukum Berpacaran
Jumat, 29/01/2010 10:36 WIB | email | print

Assalamualikum,

Pak ustad, saya mau bertanya bagaimana sebernya hukum berpacaran menurut Islam. Saya pernah mendengar bahwa pacaran dapat menjurus ke arah zina dan oleh karena itu diharamkan. Tapi mengapa teman-teman saya (yang menurut saya, ilmu agama mereka lebih banyak dari saya) tetap berpacaran atau mencari pacar. Bahkan tidak jarang guru agama di sekolah saya memberi tips mencari pacar…

Dan apabila pacaran itu tidak boleh, saya minta tolong, apa yang harus saya lakukan agar hati saya tidak terlarut dalam arus “pacaran ini”. Karena saat ini saya sedang tertarik dengan seseorang….

Fn
Jawaban

Wa’alaikum salam wr. wb.

Saudaraku Fn yang dikasihi Allah SWT, sebenarnya sudah sangat jelas sekali bahwa hukum berpacaran menurut Islam adalah haram (tidak boleh). Kebanyakan ulama sepakat tentang keharamannya karena lebih banyak mudharatnya daripada manfaatnya. Dalil-dalil yang mengharamkan pacaran banyak sekali, diantaranya adalah :

“Dan janganlah kamu mendekati zina, Sesungguhnya zina itu adalah suatu perbuatan yang keji. dan suatu jalan yang buruk”. (QS. Al-Isra’ : 32)

“Katakanlah kepada orang laki-laki yang beriman, “Hendaklah mereka menahan pandanganya, dan memelihara kemaluannya (dari hal yang haram), yang demikian itu adalah lebih suci bagi mereka. Sesungguhnya Allah Maha mengetahui apa yang mereka perbuat”. Katakanlah kepada wanita yang beriman, “Hendaklah mereka menahan pandangannya, dan kemaluannya (dari yang haram)”. (QS. An-Nur: 30-31).

“Telah ditulis bagi setiap bani Adam bagiannya dari zina, pasti dia akan melakukannya, kedua mata zinanya adalah memandang, kedua telinga zinanya adalah mendengar, lidah (lisan) zinanya adalah berbicara, tangan zinanya adalah memegang, kaki zinanya adalah melangkah, sementara qalbu berkeinginan dan berangan-angan, maka kemaluanlah yang membenarkan (merealisasikan) hal itu atau mendustakannya”. [HR. Al-Bukhoriy (5889) dari Ibnu Abbas, dan Muslim (2657) dari Abu Hurairah]

“Hati-hatilah kalian dari masuk menemui wanita”. Seorang lelaki dari kalangan Ashar berkata, “Bagaimana pendapatmu dengan kerabat suami?” Maka Rasulullah -Shollallahu ‘alaihi wasallam- bersabda, “Mereka adalah kematian (kebinasaan)”. [HR. Al-Bukhoriy (5232), Muslim (2172), dan At-Tirmidziy (1171)]

“Jangan sekali-sekali salah seorang di antara kalian (kaum pria) berduan dengan seorang wanita, karena setan adalah pihak ketiganya”. [HR. At-Tirmidziy (2165), dan Ahmad (114). Hadits ini di-shohih-kan oleh Al-Albaniy dalam Al-Irwa’ (6/215)]

“Andaikan kepala seseorang di cerca dengan jarum besi, itu lebih baik (ringan) baginya dibandingkan menyentuh seorang wanita yang tak halal baginya”. [HR. Ar-Ruyaniy dalam Al-Musnad (227/2), dan Ath-Thobroniy dalam Al-Kabir (486, & 487)]

Lalu jika pacaran itu haram, maka bagaimana caranya seorang muslin untuk mendapatkan jodoh? Cara-caranya adalah sebagai berikut :

1. Melalui perantara.
Upayakan memperluas pergaulan, tanya sana tanya sini, siapa gerangan yang bisa membantu Anda untuk mencarikan jodoh. Cari perantara yang reputasinya baik, seperti ustadz, guru, murobbi, dan orang-orang sholih lainnya. Jangan malu untuk mempromosikan diri bahwa ananda sedang mencari jodoh (apalagi ananda lelaki yang memang harus lebih agresif dalam mencari jodoh daripada perempuan). Namun saya tidak menganjurkan ananda untuk mengikuti biro jodoh atau mengikuti forum-forum gaul di internet, karena selain tidak selektif, juga belum tentu jujur apa yang ditampilkan oleh biro/media tersebut.

2. Mencari sendiri tanpa melalui pacaran.
Cara yang kedua ini mungkin sulit bagi sementara orang. Bagaimana bisa mencari jodoh sendiri tanpa melalui pacaran? Bukankah pacaran merupakan sarana untuk mengenal calon pasangan kita? Lalu dapatkah dijamin kita akan cocok dengan pasangan kita jika tidak melalui pacaran? Jawabannya adalah : bisa!. Bisa menikah tanpa pacaran dan bisa cocok sampai hayat di kandung badan. Nenek moyang kita telah mempraktekkan hal tersebut sejak lama dan terbukti cocok. Bahkan sekarang ini kita menyaksikan sendiri bahwa angkaperceraian semakin tinggi, justru ketika budaya pacaran menjadi umum dalam masyarakat kita. Ternyata pacaran tidak menjamin kecocokan dalam berumah tangga. Jadi, cocok atau tidaknya kita dengan pasangan bukan karena pacaran, tetapi karena kesiapan untuk menerima pasangan kita apa adanya. Walau tidak pacaran, tetapi hati dan mental kita lebih siap (ikhlas) untuk menerima kekurangan dari pasangan, maka rumah tangga kita akan langgeng sampai akhir hayat. Sebaliknya, walau pacaran bertahun-tahun tapi ternyata mental dan hati kita tidak siap menerima kekurangan pasangan, maka pernikahan akan mudah bubar dalam waktu yang singkat.

Cara mencari sendiri tanpa pacaran adalah dengan cara ‘menembak’ (langsung mengutarakan keinginan untuk menikahi orang yang kita taksir). Contohnya adalah ketika Khadijah ra meminta Nabi Muhammad saw untuk menikahinya. Cara ini biasanya didahului dengan mencari informasi tentang orang yang akan kita “tembak” tersebut. Cara mencari informasinya bisa melalui teman akrabnya, gurunya, dan orang-orang terdekat dengannya. Cara yang ditempuh harus smooth (halus), sehingga tidak terkesan terlalu agresif. Lalu dilanjutkan dengan memberikan sinyal kepada orang yang kita taksir tersebut apakah ia siap untuk kita ajak menikah. Kalau sinyalnya positif, maka kita bisa menyampaikan hasrat kita kepadanya. Bisa melalui perantara atau bisa juga langsung mengutarakan kepadanya. Kalau diterima alhamdulillah dan kalau pun ditolak jangan sakit hati.

Baik cara pertama maupun kedua yang Anda lakukan, prinsipnya jangan pernah berputus asa untuk mencari jodoh dengan cara-cara yang Islami. Sediakan juga waktu khusus untuk mencari jodoh (mis: sepekan dua kali atau sebulan tiga kail) dengan cara silaturahim ke perantara atau untuk mencari info orang yang kita “tembak”. Iringi upaya kita mencari jodoh dengan doa dan sholat tahajud yang intens. Buktikan kepada Allah SWT bahwa Anda memang sungguh-sungguh mencari jodoh. Insya Allah, jodoh itu akan datang kepada Anda. “Dan orang-orang yang bersungguh-sungguh mencari jalan-jalan Kami, niscaya Kami akan tunjukan jalan-jalan tersebut ” (QS. 29 : 69).

Salam Berkah !

(Satria hadi Lubis)

Pacaran ?!

Pacaran?!
Minggu, 28/02/2010 00:49 WIB | email | print

Oleh Shofa

“De, kenapa kamu ga’ mau pacaran?” tanyaku pada adikku yang paling bungsu. “Satu, di Islam ga’ ada kata pacaran. Dua, pacaran berarti pemborosan waktu, tenaga, dan kapital. Daripada kita sibuk mikirin pacar yang ga’ tahu dia mikirin kita apa enggak mendingan tidur atau nonton TV dirumah, atau beli bakso lima mangkok daripada buat hang out sama doi” jawabnya polos, namun membuatku tertegun dan merenung.

Adikku, masih berusia cukup belia 14 tahun kelas tiga es em pe. Teman se-ganknya adalah ABG gaul dan hampir semua temannya punya pacar, ya hal ini memang sudah sangat biasa di masyarakat kita, anak kelas tiga es em pe pacaran. Tapi, dia tetap bertahan dengan prinsipnya untuk tidak pacaran di antara teman se-ganknya yang melegalisasi pacaran, padahal dari sisi tarbiyah keIslaman dia sangat terbatas. Kuliahku di luar kota membuatku jarang sekali berdiskusi dengannya, hanya sesekali saja ketika aku mudik dan itupun tidak lama karena saat mudik pun banyak aktivitas di luar rumah yang harus kukerjakan. Sedangkan kondisi orangtuaku masih jauh dari bi’ah keIslaman. Jauh di hatiku aku salut dan malu padanya.

Aku jadi teringat dengan ikhwah di kampus yang mulai luntur hanya karena seseorang yang menjadi pujaan hatinya yang akhirnya membuatnya gugur di jalan dakwah. Ya, gugur tapi bukan syahid, gugur karena tereliminasi dari medan dakwah karena godaan syahwat. Virus merah jambu, adalah salah satu alasan klasik yang membuat para aktivis dakwah “drop out” dari kampus dakwah. Padahal lingkungan kampus yang kondusif dengan bi’ah keIslamannya, banyaknya ikhwah adalah sarana yang cukup efektif untuk menjaga keistiqomahan, di samping taujih mingguan di lingkaran kecil.

Virus merah jambu, sarana efektif musuh utama dakwah (syaitan) untuk menjegal para mujahid dan mujahiddah. Virus ini tidak hanya menyerang aktivis dakwah baru tapi juga aktivis dakwah dengan jam terbang yang sudah tinggi. Bermula dari koordinasi, saling tausiyah akhirnya pindah ke curhat pribadi dan lama-lama timbul simpati. Menjaga diri dan hati dari pintu-pintu masuknya syaitan adalah sangat penting bagi seorang aktivis dakwah agar ia tidak tergelincir atau pada terjebak pada jurang nasf.

Ibn Qoyyim Al-Jauzy dalam kitab Ad Da’ Wa Ad Dawa’ mengatakan ada empat pintu maksiat yaitu: pandangan, tutur kata, lintasan hati dan langkah kaki. Jagalah keempatnya, niscaya kita dapat selamat.

Belajar dari adik kecilku, aku merasa malu dan prihatin.Mengapa di antara para penggerak dakwah masih banyak dan seringkali terjadi cinta lokasi alias cinta bersemi sesama aktivis dan berujung komitmen satu sama lain. Ya, apa bedanya dengan pacaran. Apakah tidak malu dengan seorang anak es em pe yang tetap keukeu menjaga prinsip untuk tidak bacaran before married.

Filed under: - - - dari eramuslim.com

Sembilan Alasan Tolak Pembatasan Subsidi BBM

Sembilan Alasan Tolak Pembatasan Subsidi BBM
Sabtu, 19/03/2011 07:56 WIB | email | print

Sekitar 500 massa Hizbut Tahrir Indonesia mengajukan sembilan alasan penolakan rencana pembatasan subsidi bahan bakar minyak (BBM), Kamis (18/3) siang di depan Istana Presiden, Jakarta.

Kesembilan alasan itu ialah:

Pertama, menipu. “Istilah subsidi BBM adalah istilah menipu, sebab faktanya tak ada subsidi BBM!” tegas Ketua DPP HTI Dr Arim Nasim. Menurutnya Pemerintah mengambil minyak bumi milik rakyat secara gratis dengan biaya hanya US$ 10/barrel. Tapi karena hanya bisa menjualnya seharga US$ 77/barrel pemerintah merasa rugi jika harga minyak Internasional lebih dari harga itu.

Kedua, penjajahan. Penghapusan subsidi BBM adalah bagian dari agenda Konsensus Washington untuk meliberalkan perekonomian Indonesia. Kenaikan BBM adalah proses sistematis untuk meminggirkan rakyat menuju Neokolonialisme (penjajahan baru) melalui liberalisasi BBM. BBM akan dikuasai perusahaan asing mulai dari hulu (eksplorasi minyak) sampai hilir (pom bensin/SPBU). “Kenaikan harga BBM hanya menguntungkan mafia BBM asing dan anteknya!” tegasnya.

Ketiga, menyengsarakan rakyat. Kenaikan/penghapusan subsidi BBM dapat dipastikan akan memicu kenaikkan harga kebutuhan pokok dan biaya hidup rakyat.
Keempat,tidak adil. Subsidi untuk Bantuan Likuiditas Bank Indonesia dan bunganya sebesar Rp230.33 triliun hanya dinikmati sekitar 14.000 orang, sedangkan ‘subsidi’ BBM sebesar Rp201.36 triliun dinikmati oleh 230 juta orang.

Kelima, bohong. Tuduhan pemerintah kalau BBM murah akan menjadikan masyarakat boros menggunakan BBM adalah bohong. “Sebab, konsumsi BBM Indonesia cukup rendah, berada di urutan ke-116 di bawah negara Afrika seperti Botswana dan Namibia,” ungkapnya.

Keenam, dusta. Pemerintah mengatakan bahwa harga BBM di Indonesia murah karenanya harus dinaikkan. Di Amerika, Cina, dan Jepang memang harga BBM lebih tinggi dari pada di Indonesia. “Tapi ingat, pendapatan mereka pun jauh lebih tinggi dari pada Indonesia!” tegasnya.

Padahal, BBM di Indonesia (premium, Rp 5000/liter) lebih mahal dari pada Venezuela Rp 460/l, Turkmenistan Rp736/l, Iran Rp 828/l, Nigeria Rp 920/l, Saudi Arabia Rp1104/l, Kuwait Rp1932/l, dan Mesir Rp2.300/l.

Ketujuh, energi Indonesia untuk asing, bukan untuk rakyat. Indonesia ekspor 70% Batubara ke luar negeri. Indonesia pengekspor LNG terbesar di dunia. Indonesia ekspor 500.000 barrel per hari minyak.

“Tapi, di dalam negeri listrik sering padam, rakyat antri gas, minyak tanah, dan bensin pun harganya terus meningkat!” sesalnya. Sebab, Pertamina hanya memproduksi 13,8% sementara sisa minyak Indonesia dikelola asing! Chevron (41%), Total E&P Indonesie (10%), Chonoco Philips (3,6%) dan CNOOC (4,6%).

Kedelapan, Tidak salah sasaran. “Subsidi hanya dinikmati orang kaya? Tidak! “ tegasnya. Lantaran menurut data kepolisian orang kaya di Indonesia yang memiliki mobil mewah kurang dari 5%.

Kesembilan, Pengalihan subsidi? Katanya, subsidi harus dialihkan dalam bentuk subsidi langsung seperti pendidikan, kesehatan dan pencarian sumber energi alternatif.

Faktanya, pendidikan dan kesehatan tetap mahal, orang miskin dilarang sakit! Pencarian sumber energi alternatif hanya omongan. “Yang sudah pasti harga BBM naik lagi! Beban rakyat bertambah lagi!” pungkasnya.

Sebelumnya massa melakukan longmarch dari Masjdi Istiqlal menuju Istana Presiden usai shalat Jum’at. Sepanjang jalan mereka meneriakan yel-yel penolakan pembatasan subsidi BBM.(joy)

Filed under: - - - dari eramuslim.com |

Pahami Bacaan Shalatmu, Semoga Mendapat Kekhusyu’an

Memahami bacaan shalat serta merenunginya merupakan salah satu jalan untuk meraih kekhusyu’an. Bahkan menjadi salah satu jalan utamanya. Rasanya sangat sulit sekali bagi orang yang jahil terhadap makna-makna yang dibacanya dari Al-Qur’an dan dzikir-dzikir dalam shalat untuk mendapatkan kekhusyu’an. Hal sebagaimana yang disebutkan oleh Muhammad Shalih al-Munajid dalam 33 Sababab Lil Khusyu’ Fish Shalah, pada urutan ke empat.

Dalam bagian ini, Syaikh Al-Munajid menganjurkan bagi orang yang melaksanakan shalat untuk memahami bacaan Al-Qur’an yang dilantunkan dalam shalat. Lalu beliau menunjukkan cara untuk memahami Al-Qur’an, yaitu dengan memperhatikan tafsir Al-Qur’an sebagimana yang dikatakan oleh Ibnu Jarir rahimahullah,

“Sesungguhnya aku heran dengan orang-orang yang membaca Al-Qur’an, sedangkan ia tidak memahami takwil (tafsir)nya, mana mungkin dia dapat menikmati bacaannya.” (Pendahuluan Tafsir al-Thabari, Mahmud Syakir: I/10)

Karenanya, sangat dianjurkan bagi orang yang membaca Al-Qur’an untuk membaca juga kitab-kitab tafsir, jika tidak sempat dianjurkan untuk membaca ringkasannya, kalau masih juga berat dianjurkan membaca kitab-kitab yang menerangkan kalimat-kalimat yang sulitnya. Dan bagi kita, orang Ajam yang tidak berbicara dengan bahasa Arab, dianjurkan untuk membaca tarjamahnya. Semua ini agar kita bisa memahami bacaan Al-Qur’an yang dilantunkan dalam shalat sehingga kita mampu merenunginya, lalu tumbuh kekhusyu’an dalam diri kita.

Ketika seseorang memahami arti dan maksud ayat yang dibacanya memungkinkan dia untuk mengulang-ulang ayat tersebut guna lebih meresapinya dan memperkuat perasaannya. Dalam sebuah hadits disebutkan, “Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam pernah berdiri melaksanakan qiyamul lail semalaman hanya membaca satu ayat yang diulang-ulangnya hingga pagi, yaitu firman Allah,

إِنْ تُعَذِّبْهُمْ فَإِنَّهُمْ عِبَادُكَ وَإِنْ تَغْفِرْ لَهُمْ فَإِنَّكَ أَنْتَ الْعَزِيزُ الْحَكِيمُ

Yang maknanya kurang lebih, “Jika Engkau menyiksa mereka, maka sesungguhnya mereka adalah hamba-hamba Engkau, dan jika Engkau mengampuni mereka, maka sesungguhnya Engkaulah Yang Maha Perkasa lagi Maha Bijaksana.” (QS. Al-Maidah: 118)

Seseorang yang memahami makna ayat yang dibaca, tentunya akan mungkin untuk berinteraksi langsung dengan ayat tersebut. Yaitu dengan bertasbih ketika melewati ayat tasbih, dan berdoa ketika melewati ayat yang mengandung permintaan, berta’awwudz (meminta perlindungan) ketika melewati ayat yang mengandung perlindungan, memohon surga ketika melewati ayat surga, dan berlindung dari neraka ketika melewati ayat yang membicarakan tentang neraka dan kengerian siksanya.

Imam Muslim dalam Shahihnya meriwayatkan dari Hudzaifah radliyallah ‘anhu, berkata,

صَلَّيْتُ مَعَ النَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ ذَاتَ لَيْلَةٍ . . . فَقَرَأَهَا يَقْرَأُ مُتَرَسِّلًا إِذَا مَرَّ بِآيَةٍ فِيهَا تَسْبِيحٌ سَبَّحَ وَإِذَا مَرَّ بِسُؤَالٍ سَأَلَ وَإِذَا مَرَّ بِتَعَوُّذٍ تَعَوَّذَ

“Suatu malam aku shalat bermakmum kepada Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam. Beliau membaca Al-Qur’an dalam shalatnya dengan berlahan (tidak tergesa-gesa). Apabila beliau sampai pada ayat yang mengandung tasbih, beliau bertasbih. Apabila sampai pada ayat yang mengandung permintaan, beliau meminta (berdoa). Dan apabila sampai pada ayat yang mengandung perlindungan, beliau berta’awwudz (memohon perlindungan).” (HR. Muslim, no. 772)

صَلَّيْتُ مَعَ النَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ لَيْلَةً فَكَانَ إِذَا مَرَّ بِآيَةِ رَحْمَةٍ سَأَلَ، وَإِذَا مَرَّ بِآيَةِ عَذَابٍ تَعَوَّذَ، وَإِذَا مَرَّ بِآيَةٍ فِيْهَا تَنْزِيْهٌ لِلَّهِ سَبَّحَ

“Suatu malam aku shalat bermakmum kepada Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam. Maka apabila sampai pada ayat rahmat, beliau meminta rahmat. Apabila sampai pada ayat adzab, beliau berlindung darinya. Dan apabila sampai pada ayat yang di dalamnya mengandung makna menyucikan Allah, beliau membaca tasbih.” (HR. Imam al-Marwazi dalam Ta’dzim Qadris Shalah. Hadits ini dishahihkan oleh Al-Albani dalam Shahih al-Jami’, no. 4782)

Sebagian ulama salaf juga membaca ayat dengan diulang-ulang karena terkesan dengan makna dan kandungannya. Hal ini tidak lain karena mereka memahami apa yang mereka baca. Qatadah bin al-Nu’man, seorang sahabat Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam, melakukan qiyamullailnya tanpa membaca surat apapun, kecuali surat Al-Ikhlash yang dibacanya berulang-ulang. (Atsar riwayat Al-Bukhari, lihat Fathul Baari 9/59 dan Ahmad dalam Musnadnya III/43)

Sa’id bin ‘Ubaid al-Thaiy telah meriwayatkan sebuah atsar, ia pernah mendengar Sa’id bin Jubair mengimami pada bulan Ramadlan. Pada shalat tersebut, Sa’id hanya membaca ayat berikut ini secara berulang ulang,

فَسَوْفَ يَعْلَمُونَ (70) إِذِ الْأَغْلَالُ فِي أَعْنَاقِهِمْ وَالسَّلَاسِلُ يُسْحَبُونَ (71) فِي الْحَمِيمِ ثُمَّ فِي النَّارِ يُسْجَرُونَ (72)

” Kelak mereka akan mengetahui,ketika belenggu dan rantai dipasang di leher mereka, seraya mereka diseret, ke dalam air yang sangat panas, kemudian mereka dibakar dalam api.” (QS. Al-Mukmin: 70-72)

Al-Qasim telah meriwayatkan bahwa dia pernah melihat Sa’id bin Jubair melakukan qiyamullail dengan hanya membaca ayat,

وَاتَّقُوا يَوْمًا تُرْجَعُونَ فِيهِ إِلَى اللَّهِ ثُمَّ تُوَفَّى كُلُّ نَفْسٍ مَا كَسَبَتْ وَهُمْ لَا يُظْلَمُونَ

“Dan peliharalah dirimu dari (adzab yang terjadi pada) hari yang pada waktu itu kamu semua dikembalikan kepada Allah. Kemudian masing-masing diri diberi balasan yang sempurna terhadap apa yang telah dikerjakannya, sedang mereka sedikit pun tidak dianiaya (dirugikan).” (QS. Al-Baqarah: 281) dan beliau mengulang-ulang bacaan ayat ini sampai 20 kali lebih.

Seorang laki-laki dari Bani Qais yang dikenal dengan Abu Abdullah telah meriwayatkan, “Pada suatu malam kami menginap di rumah Al-Hasan (al-Bashri), maka di tengah malam ia bangun dan shalat. Dan ternyata yang dibacanya hanyalah ayat berikut secara berulang-ulang hingga waktu sahur, yaitu firman Allah,

وَآَتَاكُمْ مِنْ كُلِّ مَا سَأَلْتُمُوهُ وَإِنْ تَعُدُّوا نِعْمَةَ اللَّهِ لَا تُحْصُوهَا إِنَّ الْإِنْسَانَ لَظَلُومٌ كَفَّارٌ

“Dan Dia telah memberikan kepadamu (keperluanmu) dari segala apa yang kamu mohonkan kepadanya. Dan jika kamu menghitung nikmat Allah, tidaklah dapat kamu menghitungnya. Sesungguhnya manusia itu, sangat dzalim dan sangat mengingkari (nikmat Allah).” (Qs. Ibrahim: 34)

Pada pagi harinya kami bertanya, “Wahai Abu Sa’id, mengapa engkau tidak melampaui ayat ini dalam bacaan sepanjang malam?” Al Hasan menjawab, “Aku memandang ayat ini mengandung pelajaran yang mendalam. Karena tidaklah aku menengadahkan pandangan mataku dan tidak pula menundukkannya, melainkan pasti melihat nikmat. Sedangkan nikmat-nikmat Allah yang belum diketahui, masih sangat banyak.” (Al-Tadzkirah, karya Imam al-Qurthubi, hal. 125)

Syaikh Muhammad bin Shalih al-Munajjid juga menjelaskan bahwa meragamkan bacaan surat, ayat, dzikir, dan do’a dalam shalat bisa membantu menghadirkan kekhusyu’an. Namun, kekhusyu’an ini tidak akan diperoleh kecuali oleh orang yang mengetahui maknanya dan memahami kandungannya, sehingga ketika ia membacanya seolah dia sendiri yang bermunajat dan meminta kepada Allah secara langsung.

Berikut ini kekhusyu’an Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam dalam shalatnya sehingga tumbuh rasa takutnya kepada Allah sampai-sampai air mata beliau tertumpah membasahi bumi. Diriwayatkan dari ‘Atha, dia dan ‘Ubaid bin ‘Umair pernah datang menemui ‘Aisyah radliyallah ‘anha. Kemudian ‘Ubaid berkata, “Ceritakanlah kepada kami hal yang paling menakjubkan yang pernah Anda lihat dari Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam?”

‘Aisyah menangis lalu becerita, “Pada suatu malam Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bangun, lalu berkata, “Hai ‘Aisyah biarkan aku menyembah Tuhanku malam ini, sesungguhnya aku suka dekat denganmu dan aku menyukai apa yang engkau sukai.”

‘Aisyah melanjutkan kisahnya, “Sesudah itu beliau bangkit dan berwudlu’, lalu berdiri untuk shalatnya. Beliau terus-menerus menangis dalam shalatnya sehingga pangkuannya basah, dan terus menangis hingga tanahnya basah. Setelah itu Bilal datang untuk memberitahukan akan masuknya waktu Shubuh. Tetapi, setelah Bilal melihat beliau menangis, maka ia bertanya, “Wahai Rasulullah, Anda menangis, padahal Allah sudah mengampuni semua dosamu yang terdahulu dan yang kemudian?” Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam menjawab,

أَفَلاَ أَكُوْنَ عَبْدًا شَكُوْرًا، لَقَدْ نَزَلَتْ عَلَيَّ اللَّيْلَةَ آيَةٌ، وَيْلٌ لِمَنْ قَرَأَهَا وَلَمْ يَتَفَكَّرْ فِيْهَا (إِنَّ فِي خَلْقِ السَّمَاوَاتِ وَالْأَرْضِ. . . . الآية كُلُّهَا

“Tidak bolehkan aku menjadi hamba yang banyak bersyukur? Sesungguhnya malam ini telah diturunkan kepadaku beberapa buah ayat. Celakalah bagi orang membacanya tapi tidak memikirkan makna yang terkandung di dalamnya: “Sesungguhnya dalam penciptaan langit dan bumi . . . (QS. Al-Baqarah: 164) seluruhnya.” (HR. Ibnu Hibban dalam Shahihnya. Al-Albani dalam Al-Shahihah, no. 68, menyatakan sanad hadits ini jayyid –baik-)

Mengetahui dan memahami makna apa yang dibaca di dalam shalat menjadi sarana wajib untuk bisa merenungkan dan mentadabburi setiap gerakan dan dzikir-dzikir dalam shalat. Dari perenungan dan tadabbur yang mendalam ini akan memunculkan sentuhan jiwa sehingga matapun akan bisa menangis. Allah berfirman tentang Ibadurrahman,

وَالَّذِينَ إِذَا ذُكِّرُوا بِآَيَاتِ رَبِّهِمْ لَمْ يَخِرُّوا عَلَيْهَا صُمًّا وَعُمْيَانًا

“Dan orang-orang yang apabila diberi peringatan dengan ayat-ayat Rabb mereka, mereka tidaklah menghadapinya sebagai orang-orang yang tuli dan buta.” (Q.S Al-Furqan 73)

Imam Ibnul Qayyim dalam kitabnya Al-Shalah, pernah menyatakan: “Ada satu hal yang ajaib, yang dapat diperoleh oleh orang yang merenungi makna-makna Al-Qur’an. Yaitu keajaiban-keajaiban Asma dan Sifat Allah. Itu terjadi, tatkala orang tadi menuangkan segala curahan iman dalam hatinya, sehingga ia dapat memahami bahwa setiap Asma dan Sifat Allah itu memiliki tempat (bukan dibaca) di setiap gerakan shalat. Artinya bersesuaian. Tatkala ia tegak berdiri, ia dapat menyadari ke-Maha Terjagaan Allah, dan apabila ia bertakbir, ia ingat akan ke-Maha Agung-an Allah.” Wallahu a’lam Bis shawab. . .

Oleh: Badrul Tamam

Filed under: - - - - artikel voa-islam.com |

Menggapai Shalat Khusyu’

Menggapai Shalat Khusyu’
Jumat, 28/08/2009 14:16 WIB | email | print

Assalamualaikum wr.wb

Ustad sigit yg sya hormati,,,

saya ingin bertanya,bagaimana sholat seseorang bisa dibilang sudah khusu,,,

soalnya sampai sekarang sya belum merasa sholat sya itu sudah khusuyu,,,

terima kasih,

wasalamualaikum wr.wb

ichai
Jawaban

Waalaikumussalam Wr Wb

Saudara Ichai yang dimuliakan Allah swt

Al Qurthubi mengatakan bahwa khusyu adalah suasana didalam jiwa yang tertampakkan pada anggota tubuhnya berupa ketenangan dan ketundukan. Sedangkan Qatadah mengatakan bahwa khusyu didalam hati berupa rasa takut dan memejamkan mata ketika shalat.

Diantara nash-nash yang berbicara tentang tuntutan khusyu didalam shalat ini :

الَّذِينَ هُمْ فِي صَلَاتِهِمْ خَاشِعُونَ

Artinya, ”(yaitu) orang-orang yang khusyu’ dalam sembahyangnya.” (QS. Al Mukminun : 2)

وَاسْتَعِينُواْ بِالصَّبْرِ وَالصَّلاَةِ وَإِنَّهَا لَكَبِيرَةٌ إِلاَّ عَلَى الْخَاشِعِينَ

Artinya : ”Jadikanlah sabar dan shalat sebagai penolongmu. dan Sesungguhnya yang demikian itu sungguh berat, kecuali bagi orang-orang yang khusyu’.” (QS. Al Baqoroh : 45)

Diantaranya pula, hadits ’Uqbah bin ’Amir bahwa dia mendengar Rasulullah saw bersabda,”Tidaklah seorang muslim berwudhu lalu membaguskan wudhunya kemudian berdiri melakukan shalat dua raka’at dengan ketundukan hati dan wajahnya kecuali wajib baginya surga.” (HR. Muslim)

Dari Utsman berkata,”Aku mendengar Rasulullah saw bersabda,”Tidaklah seorang muslim mendatangi shalat wajib lalu membaguskan wudhu, khsuyu dan ruku’nya kecuali ia menjadi pelebur dosa-dosanya yang lalu kecuali dosa besar. Dan itu berlaku sepanjang masa.” (HR. Muslim)

Sedangkan hukum khusyu itu sendiri adalah sunnah dari sunnah-sunnah shalat menurut jumhur ahli ilmu. Mereka menganggap sah orang yang didalam shalatnya memikirkan urusan-urusan duniawi selama dia tetap melakukan gerakan-gerakan shalatnya secara baik.

Oleh karena itu hendaklah setiap orang yang shalat memperhatikan perkara-perkara berikut agar khusyu didalam setiap shalatnya :

1. Tidak menghadirkan didalam hatinya kecuali segala sesuatu yang ada didalam shalat.

2. Menundukkan anggota tubuhnya dengan tidak memain-mainkan sesuatu dari anggota tubuhnya, seperti : jenggot atau sesuatu yang diluar anggota tubuhnya, seperti : meratakan selendang atau sorbannya. Hendaknya penampilan lahiriyahnya menampakkan keskhuyuan batiniyahnya.

3. Hendaklah merasakan bahwa dirinya tengah berdiri dihadapan Raja dari seluruh raja Yang Maha Mengetahui segala yang tersimpan dan tersembunyi.

4. Mentadabburi bacaan shalatnya karena hal itu dapat menyempurnakan kekhusyuan.

5. Mengosongkan hatinya dari segala kesibukan selain shalat karena hal itu dapat membantunya untuk khsusyu dan janganlah memperpanjang atau melebarkan pembicaaan didalam hatinya. (al Mausu’ah al Fiqhiyah juz II hal 6643)

Wallahu A’lam

Filed under: - - - dari eramuslim.com

Mengenang Ustadz Abdullah Wasi’an Pembantah Para Penginjil

Mengenang Ustadz Abdullah Wasi’an Pembantah Para Penginjil. Ummat Islam Indonesia dalam ancaman dan rundungan pemurtadan

Oleh Hartono Ahmad Jaiz*

Ustadz Abdullah Wasi’an (94), seorang ahli dalam hal membantah penginjil, meninggal dunia pada hari Rabu (16 Pebruari 2011 M / 13 Rabi’ul Awwal 1432 H) di rumahnya, Jalan Perumahan Rewwin, Wedoro, Sidoarjo Jawa Timur. Hidayatullah.com yang berpusat di Surabaya memberitakan, sebelum dipanggil Allah SWT, Abdullah Wasi’an dikenal sangat produktif menulis dan berkarya. Menurut M Mashud (40) seorang kristolog muda asal Surabaya, meski usianya 94 tahun, almarhum masih produktif menulis buku-buku tentang kristologi.

Di antara buku-bukunya yang sangat populer di masyarakat adalah; “100 Jawaban untuk Missionaris”,“Jawaban untuk Pendeta”, “Nabi Muhammad dalam Al Kitab”, “Pendeta Menghujat, Kiai Menjawab”.

Menurut Mashud, selama ini almarhum terus menulis, meski dengan bantuan alat pembesar (kaca pembesar bundar bergagang, seperti gambar di symbol search dalam computer, nm) dan mesin ketik butut (dan duduknya pun di lantai, nm).

“Beliau memiliki keterbatasan mata. Meski dengan keterbatasan alat, beliau tetap menulis dibantu kaca pembesar dan mesin ketik kuno, “ ujarnya padahidayatullah.com.

Untuk mengenang almarhum yang semasa hidupnya senantiasa tampak nglesot (duduk tanpa kursi) di lantai di depan mesin ketik butut dengan memegangi kaca pembesar agar bisa mengetik naskah, berikut ini kami turunkan tulisan yang kami tulis tahun 1999 dan diperbarui berkaitan dengan wafatnya Ustadz Abdullah Wasi’an, Februari 2011 ini. Hal ini untuk menunjukkan, betapa sejatinya apa yang dihadapi oleh Ummat Islam di Indonesia memerlukan orang-orang seperti beliau.

Inilah fakta dan data derita Ummat Islam dalam ancaman dan rundungan pemurtadan, namun di balik itu ada sebagian tokoh yang mengaku Islam justru berkhianat dan memuluskan jalannya pemurtadan:

Kristenisasi Menghina Islam

Ketika orde baru pimpinan Soeharto berjaya, banyak pejabat yang tak mau tahu bila diberi tahu tentang kristenisasi dan pemurtadan terjadi di mana-mana di pelosok penjuru Indonesia. Tetapi setelah dikeluarkan buku Fakta dan Data (kumpulan laporan dari Majalah Media Dakwah Terbitan Dewan Da’wah Islam Indonesia di Jakarta), semua pihak terperangah dan yakin bahwa pihak misionaris zending telah bekerja keras memurtadkan ummat Islam secara membabi buta. Namun keterperangahan atas dimurtadkannya sejumlah ummat Islam di sana-sini itu tidak diikuti dengan kebijakan yang melindungi ummat Islam sepenuhnya. Maka terjadilah pemandangan yang menyakitkan bagi ummat Islam. Tempat-tempat strategis dan pemukiman-pemukiman ummat Islam tahu-tahu bermunculan gereja di tengah-tengahnya. Padahal di sekitarnya adalah penduduk Muslim, dengan adat Islami. Sentimen dan perang batin pun terpendam di hati dengan aneka rasa.

Di tengah kemelut jiwa yang melanda dan menekan perasaan ummat Islam itu, malah sering-sering muncul tokoh Islam yang nyeleneh (aneh), yang lebih membela orang palangis ataupun kafir ketimbang memperhatikan sesama Muslim. Bahkan sang tokoh pembela palangis walau duduk di jum’iyah Islam merasa risih dengan rintihan Muslimin yang menyuarakan ayat “Walan tardho…”:

وَلَنْ تَرْضَى عَنْكَ الْيَهُودُ وَلَا النَّصَارَى حَتَّى تَتَّبِعَ مِلَّتَهُمْ قُلْ إِنَّ هُدَى اللَّهِ هُوَ الْهُدَى وَلَئِنِ اتَّبَعْتَ أَهْوَاءَهُمْ بَعْدَ الَّذِي جَاءَكَ مِنَ الْعِلْمِ مَا لَكَ مِنَ اللَّهِ مِنْ وَلِيٍّ وَلَا نَصِيرٍ ( [البقرة/120] 120.

Orang-orang Yahudi dan Nasrani tidak akan senang kepada kamu hingga kamu mengikuti agama mereka. Katakanlah: “Sesungguhnya petunjuk Allah itulah petunjuk (yang benar)”. Dan sesungguhnya jika kamu mengikuti kemauan mereka setelah pengetahuan datang kepadamu, maka Allah tidak lagi menjadi pelindung dan penolong bagimu. (QS. Al-Baqarah [2] : 120)

Masih dikumandangkannya ayat walan tardho… oleh para muballigh di mana-mana, lama-lama menjadikan panasnya kuping si pembela palangis itu. Hingga secara resmi dalam muktamar jum’iyah itu di Jawa Barat 1994 (tepatnya di Pesaantren Cipasung), ia dengan lantang menentang orang-orang yang menyuarakan ayat walan tardho itu dengan cara menafsirkan ayat itu bahwa hanya terbatas khusus mengenai aqidah (keyakinan). Tidak yang lain. Pembelaannya terhadap kafirin dan juga penyelewengannya dalam menafsiri ayat Al-Qur’an, kalau tidak dia taubati maka dibawa sampai mati, yang tampaknya telah mendahului Pak Abdullah Wasi’an. Sebaliknya Pak Abdullah Wasi’an yang membela ayat itu dengan cara membantah para penginjil dan pembela-pembelanya serta memberi pencerahan kepada Ummat Islam tentang jangan sampai mau dimurtadkan, insya Allah membawa bekal amalnya itu pula.

Bentrokan Islam-Kristen

Tidak berapa lama kemudian, terjadilah keributan di mana-mana antara Islam dan Kristen. Di antaranya ummat Islam dibunuh dan masjid/mushollanya dibakari oleh orang-orang Katolik di Dili Timor Timur 1994, orang-orang Nasrani di Maumere NTT membakari dan berusaha membunuhi ummat Islam 1995. Peristiwa di Surabaya dan Situbondo Jawa Timur 1996,Tasikmalaya 1997, Ketapang dan Kupang serta Ambon dan Sambas 1999. (lihat Dialog Jum’at, 6 Agustus 1999). Terakhir sampai bunuh-bunuhan, berulang-ulang kali yaitu di Ambon, sejak Idul Fitri 1419H/ Januari 1999M, diulangi Juli sampai kini (ditulisnya naskah ini, Sabtu 28/8 1999M, 17/ 5 1420H, diperbarui Kamis 17 Februari 2011 / 14 Rabi’ul Awwal 1432H berkenaan dengan wafatnya KH Abdullah wasi’an, Rabu 16 Februari 2011/ 13 Rabi;ul Awwal 1432H)..

Di saat ummat Islam sangat prihatin atas gencarnya pemurtadan, sedang jeritan ummat Islam tak digubris itu, justru para pejabat Orde Baru serta para penjilat, banyak yang berpidato membanggakan pancasila. Kata mereka, bahwa berkat pancasila, maka negeri kita Indonesia walau berbeda-beda agama namun relatif paling aman di dunia.

Pemberhalaan pancasila sudah sedemikian rupa saat itu. Di Ambon itu, kata mereka saat itu, masyarakatnya yang Islam membantu pembangunan gereja, sedang yang Kristen pun sebaliknya, membantu pula pembangunan Masjid. Itu berkat pancasila, katanya pula.

Sesumbar-sesumbar yang telah dikeluarkan oleh mulut-mulut mereka itu kemudian dibalikkan oleh Allah. Seharusnya, ketika perang agama seperti di Ambon, (diawali oleh penyerangan dari pihak Nasrani terhadap Muslimin pas Idul Fitri 1419H / 19 Januari 1999 lalu), mestinya mereka mengumumkan permintaan maaf dan mencabut ucapan-ucapannya yang telah kelewat batas menyanjung pancasila dulu itu. Seharusnya mereka meminta maaf seribu maaf, kemungkinan besar turunnya adzab dengan aneka krisis dan kekacauan di Indonesia itu di antaranya akibat kelancangan mulut-mulut mereka yang telah menyepelekan Allah Subhanahu wa Ta’ala dan hukum-hukum Nya, diganti dengan berhala bikinan mereka. Namun tidak. Lain lagi ceritanya. Yang dibanggakan kemudian adalah bahwa golongannya merupakan golongan yang lintas agama. Bila yang dibunuhi ummat Islam, maka mereka diam, karena tidak merasa ada kaitan apa-apa. Hanya saja kalau ada orang palangis terbunuh, mereka ikut berteriak, karena sebagai orang yang berfaham lintas agama.

Pemurtadan mereka anggap kecil

Apalagi hanya kristenisasi, pemurtadan terhadap ummat Islam; orang yang namanya nyawa muslimin dibantai dengan sepengetahuan mereka pun mereka tidak merasakan apa-apa. Itulah keadaannya. Kata pepatah Arab, mayat itu takkan merasa walau dilukai. Artinya, hati yang sudah mati, yang sudah tidak ada kontak sama sekali dengan Islam, walau Islam dihancurkan, tetap saja mereka tidak merasakan apa-apa, ibarat mayat, ya sudah.

Buku-buku Kristenisasi menghina Nabi dan membohongi

Di kala pihak palangis tahu betul bahwa orang-orang yang serakah terhadap jabatan telah jadi mayat-mayat bila di depan agamanya (Islam) alias tidak peduli lagi itu, maka digunakanlah kesempatan yang dianggap baik itu untuk menjerat ummat Islam. Ditulislah buku-buku dan slebaran yang menipu ummat Islam, meng hina Islam, tetapi memakai label Islam.

Mereka semakin berani melakukan kristenisasi secara terbuka bahkan lebih keji, mereka menggunakan Al-Quran dan Hadits untuk membenarkan ajaran sesat mereka. Tentunya dengan memutar balikkan ajaran Islam itu, untuk mengelabui Ummat Islam. Gerakan kristenisasi dengan kedok dakwah, ukhuwah dan shirathal mustaqim digencarkan.

Gerakan kristenisasi yang licik dan keji itu dikordinasi oleh Yayasan Nehemia yang dipelopori Dr Susadi Ben Abraham, Kholil Dinata, dan Drs Poernama Winangun alias H Amos. Mereka telah mengeluarkan beberapa buku di antaranya:

1. Upacara Jama’ah Haji
2. Ayat-ayat yang Menyelamatkan
3. Isa alaihis salam dalam Pandangan Islam
4. Riwayat Singkat Pusaka Peninggalan Nabi Muhammad saw.
5. Membina Kerukunan Umat Beragama
6. Rahasia Jalan ke Surga
7. Siapakah yang bernama Allah itu?

Isi buku-buku dan brosur tersebut sangat menghina Islam, di antaranya:

* Upacara Ibadah haji adalah penyembahan berhala tertutup.
* Islam agama khusus untuk orang Arab, Al-Quran kitab suci orang Arab, Nabi Muhammad nabi untuk orang Arab yang mengajarkan pe nyembahan berhala dan tidak akan selamat di akherat.
* Tuhan orang Islam adalah batu hitam (hajar aswad).
* Waktu shalat sangat kacau dan Al-Quran tidak relevan. – Nabi Muhammad memperkosa gadis di bawah umur.
* Al-Quran untuk Iblis, Injil petunjuk bagi umat Islam yang taqwa.
* Bapaknya Yesus adalah Allah subhanahu wata’ala.
* Semua umat masuk Neraka kecuali umat Kristen.
* Nabi Muhammad wafat mewariskan kitab Injil.
* Khadijah, isteri Nabi Muhammad beragama Kristen.

Itulah di antara tuduhan-tuduhan keji dan kebohongan mereka. Kristenisasi di masa Reformasi ini bukan sekadar pemurtadan secara mempengaruhi, namun sampai menghina dan menodai Islam dengan mencetak buku-buku yang menodai kesucian Islam dan aneka upaya jahat. Bahkan sampai memperkosa wanita untuk kemudian dimurtadkan, seperti yang terjadi di Padang Sumatera Barat. Tuduhan keji dan penghinaan terhadap Islam itupun dilanjutkan dan disebarkan di antaranya di Temanggung Jawa Tengah, hingga terjadi kasus Temanggung Februarai 2011.

Beritanya sebagai berikut:

Pendeta Antonius Hina Islam, PicuKerusuhandi Temanggung

Dalam buku Kristen yang disebarkan Pendeta Antonius, Hajar Aswad dilecehkan sebagai simbol vagina (kemaluan wanita); tugu Jamarat di Mina dihina sebagai simbol dari kemaluan laki-laki.

Hajar Aswad adalah batu hitam yang berada di satu sudut Ka’bah di Masjidil Haram. Ka’bah dengan hajar aswadnya serta Masjidil Haram, bahkan Kota Makkah adalah tempat suci Ummat Islam sedunia. Namun pendeta beralamat di Pondok Kopi Jakarta itu menyebarkan buku Kristen di Temanggung Jawa Tengah yang isinya menganggap Hajar Aswad itu symbol kemaluan wanita.

Voaislam.com memberitakan,SABTU, 23 OKTOBER 2010,Pendeta Antonius menginap di rumah saudaranya di Dusun Kenalan, Desa/Kecamatan Kranggan, Kabupaten Temanggung. Ia hanya semalam menginap di tempat itu untuk melanjutkan perjalanan ke Magelang. Namun waktu sehari tersebut digunakan untuk membagikan buku dan selebaran berisi tulisan yang menghina umat Islam.

Di kampung orang, pendeta kelahiran 58 tahun silam ini menyebarkan dua buku berjudul “Ya Tuhanku Tertipu Aku” dan buku “Saudara Perlukan Sponsor (3 Sponsor, 3 Agenda dan 3 Hasil)” yang penuh dengan pelecehan Islam, antara lain: menghina Allah dan Nabi Muhammad sebagai Pembohong; ibadah haji adalah simbol kemesuman Islam; Hajar Aswad adalah simbol dari –maaf– vagina; tugu Jamarat di Mina adalah simbol dari –maaf– kemaluan laki-laki; umat Islam yang shalat Jum’at di masjid sama dengan menyembah dewa Bulan karena di atas kubah masjid terdapat lambang bulan-bintang; Islam agama bengis dan kejam; dan masih banyak lagi hujatan lainnya. Yang lebih menyesatkan lagi, Pendeta Antonius menukil ayat-ayat Al-Qur’an dalam hujatan-hujatan tersebut.

Kasus itu kemudian diproses ke pengadilan, lalu timbul kerusuhan

SENIN, 8 FEBRUARI 2011, karena massa kecewa, penghina Islam yang sebegitu menghinanya, namun hanya dituntut 5 tahun penjara. (nahimunkar.com, Pendeta Antonius Hina Islam, Picu Kerusuhan di Temanggung, February 9, 20113:52 am, http://www.nahimunkar.com/pendeta-antonius-hina-islam-picu-kerusuhan-di-temanggung/)

Sanggahan terhadap tuduhan keji

Tuduhan keji itu perlu dibuktikan, dan berikut ini kami kutipkan sanggahan seperlunya, untuk menunjukkan betapa licik dan busuknya mereka itu.

Ibadah haji dituduh sebagai penyembahan berhala tertutup, itu tuduhan keji. Tidak bolehnya orang non Muslim ke Makkah bukan untuk menutupi upacara ibadah haji. Dan ibadah haji itu tidak ada penyembahan berhala seperti dituduhkan H Amos. Namun tidak bolehnya orang non Muslim ke Masjidil Haram itu perintah langsung dari Allah Subhanahu wa Ta’ala dalam Al-Quranul kariem,

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آَمَنُوا إِنَّمَا الْمُشْرِكُونَ نَجَسٌ فَلَا يَقْرَبُوا الْمَسْجِدَ الْحَرَامَ بَعْدَ عَامِهِمْ هَذَا

[التوبة/28]

yang artinya: “Hai orang-orang yang beriman, sesungguhnya orang-orang musyrik itu najis, maka janganlah mereka mendekati Masjidil Haram sesudah tahun ini.” (QS. At-Taubah [9] : 28)

Tuduhan bahwa upacara ibadah haji tertutup, itu juga bertentangan dengan kenyataan, karena ditayangkan pula ke berbagai negara di dunia ini lewat televisi. Terbukti tak ada penyembahan berhala dalam upacara ibadah haji, dan tak tertutup seperti yang dituduhkan dengan keji itu.

Nabi Muhammad Shallallahu ‘alaihi wa salam dituduh hanya Rasul untuk bangsa Arab, dan tidak akan selamat di Akherat. Tuduhan itu sangat jahat. Karena Allah telah menegaskan dalam Al-Quran

وَمَا أَرْسَلْنَاكَ إِلَّا رَحْمَةً لِلْعَالَمِينَ [الأنبياء/107]

yang artinya: “Dan Kami tiada mengutusmu (Muhammad) melainkan menjadi rahmat bagi semesta alam.” (QS. Al-Anbiyaa’ [21] : 107)

وَمَا أَرْسَلْنَاكَ إِلَّا كَافَّةً لِلنَّاسِ بَشِيرًا وَنَذِيرًا وَلَكِنَّ أَكْثَرَ النَّاسِ لَا يَعْلَمُونَ [سبأ/28]

“Dan tiadalah Kami mengutus engkau (Muhammad) melainkan untuk seluruh manusia sebagai pemberi peringatan, tetapi kebanyakan manusia tidak mengetahui.” (QS. Saba’ [34] : 28)

إِنْ هُوَ إِلَّا ذِكْرٌ لِلْعَالَمِينَ [التكوير/27]

“Al-Quran adalah suatu peringatan untuk semesta alam.” (QS. At-Takwir [81] : 27, dan QS. Al-Qalam [68] : 52)

وَأَنْزَلْنَا إِلَيْكَ الذِّكْرَ لِتُبَيِّنَ لِلنَّاسِ مَا نُزِّلَ إِلَيْهِمْ وَلَعَلَّهُمْ يَتَفَكَّرُونَ [النحل/44]

“Dan Kami turunkan Al-Quran kepadamu (Muhammad) supaya engkau jelaskan kepada umat manusia, apa-apa yang diturunkan kepada mereka, supaya mereka berpikir”. (QS An-Nahl [16] : 44)

مَا كَانَ مُحَمَّدٌ أَبَا أَحَدٍ مِنْ رِجَالِكُمْ وَلَكِنْ رَسُولَ اللَّهِ وَخَاتَمَ النَّبِيِّينَ وَكَانَ اللَّهُ بِكُلِّ شَيْءٍ عَلِيمًا [الأحزاب/40]

“Muhammad bukanlah bapak salah seorang laki-laki di antara kamu, tetapi dia adalah utusan Allah dan penutup nabi-nabi. Dan adalah Allah Maha Mengetahui segala sesuatu.” (QS. Al-Ahzaab [33] : 40)

Tuduhan tentang Nabi Muhammad tidak selamat di akherat maka harus dibacakan shalawat, itu tuduhan keji pula. Bisa diperbandingkan dengan keadaan bahwa bayi yang meninggal dunia keadaannya tanpa ada dosa. Dia pasti selamat, akan masuk surga. Namun bayi yang meninggal itu tetap disholati, dido’akan, dan dikubur sesuai dengan aturan Islam. Tidak seperti penguburan binatang. Orang yang mensholati, mendo’akan, dan menguburkan mayat bayi ini akan mendapatkan pahala.

Terhadap bayi yang belum berjasa saja harus didoakan, apalagi terhadap seorang Nabi yang telah sangat berjasa bagi umat manusia. Ini sudah pas dari segi ajaran agama maupun akal yang mau menerimanya.

Tuduhan bahwa Islam mengajarkan penyembahan berhala batu hitam bernama hajar aswad, itu tuduhan yang amat keji dan licik. H Amos memutar balikkan fakta, hajar aswad dianggap sebagai berhala yang disisakan setelah 359 berhala dihancurkan, dengan mengutip hadits Bukhari tanpa disertai teksnya. Ternyata H Amos bohong, karena hajar aswad bukan termasuk berhala. Teks Hadits Bukhari nomor 832,

عَنِ ابْنِ عَبَّاسٍ – رضى الله عنهما – قَالَ إِنَّ رَسُولَ اللَّهِ – صلى الله عليه وسلم – لَمَّا قَدِمَ أَبَى أَنْ يَدْخُلَ الْبَيْتَ وَفِيهِ الآلِهَةُ فَأَمَرَ بِهَا فَأُخْرِجَتْ فَأَخْرَجُوا صُورَةَ إِبْرَاهِيمَ وَإِسْمَاعِيلَ فِى أَيْدِيهِمَا الأَزْلاَمُ فَقَالَ رَسُولُ اللَّهِ – صلى الله عليه وسلم – « قَاتَلَهُمُ اللَّهُ أَمَا وَاللَّهِ قَدْ عَلِمُوا أَنَّهُمَا لَمْ يَسْتَقْسِمَا بِهَا قَطُّ » . فَدَخَلَ الْبَيْتَ ، فَكَبَّرَ فِى نَوَاحِيهِ ، وَلَمْ يُصَلِّ فِيهِ .

terjemahnya: Dari Ibnu Abbas RA, dia berkata: “Ketika Rasulullah SAW mula- mula tiba di Makkah, beliau enggan hendak masuk Ka’bah karena di dalamnya banyak patung. Beliau memerintahkan supaya mengeluarkan patung-patung itu dari dalamnya, maka dikeluarkan mereka semuanya termasuk patung Nabi Ibrahim dan Islmail yang sedang memegang azlam (alat untuk mengundi). Melihat itu Rasulullah SAW bersabda: “Terkutuklah yang membuat patung itu! Demi Allah! Sesungguhnya mereka tahu bahwa keduanya tidak pernah melakukan undian dengan azlam, sekali-kali tidak.” Kemudian beliau masuk ke dalam Ka’bah, lalu takbir di setiap pojok dan beliau sholat ketika itu di dalamnya.” (Shahih Al-Bukhari nomor 832).

Tuduhan tentang waktu shalat sangat kacau, itu tuduhan sangat mengada-ada. Penuduh membentrokkan ayat-ayat dengan Hadits Bukhari, tanpa mau memahami. QS Al-Israa’: 78 dan QS Huud: 114 dibentrokkan dengan Hadits Bukhari nomor 211, lalu dikomentari bahwa yang dipakai Hadits, bukan Al-Quran. Maka dituduh kacau. Padahal, kalau mau memahami, ayat-ayat maupun hadits tersebut semuanya bermakna bahwa shalat wajib adalah 5 waktu sehari semalam, yaitu Shubuh, Dhuhur, Ashar, Maghrib, dan Isya’.

Nabi Muhammad dituduh memperkosa gadis di bawah umur, itu tuduhan sangat menghina.

Tuduhan itu hanya menunjukkan kebencian yang amat sangat, dan tidak bisa mengemukakan bukti-bukti larangan tentang menikahi gadis dalam batasan umur. Padahal umur 9 tahun seperti Aisyah yang mulai diajak serumah oleh Nabi SAW setelah dinikahi pada umur 6 tahun, itu tidak ada larangan. Sedangkan gadis-gadis Arab pun umur 9 tahun sudah mungkin sekali haid, berarti dewasa. Jadi tuduhan itu hanyalah kebencian yang membabi buta, dan penghinaan yang tiada taranya. Astaghfirullaahal ‘adhiem…

Tuduhan-tuduhan lainnya seperti tertera di atas nilainya sama saja dengan yang telah disanggah ini; semuanya adalah kebohongan, kebencian, kelicikan, dan penghinaan yang sangat tidak pantas dikemukakan oleh orang yang beradab.

Dipotong tangannya, kakinya, dan dicongkel matanya

Tigkah jahat orang yang mengaku masuk Islam kemudian menjahati kebaikan Islam pun pernah terjadi di zaman Nabi SAW.

Di antara contohnya tercantum dalam Hadits Shohih Bukhari:

عَنْ أَنَسٍ قَالَ قَدِمَ أُنَاسٌ مِنْ عُكْلٍ أَوْ عُرَيْنَةَ ، فَاجْتَوَوُا الْمَدِينَةَ ، فَأَمَرَهُمُ النَّبِىُّ – صلى الله عليه وسلم – بِلِقَاحٍ ، وَأَنْ يَشْرَبُوا مِنْ أَبْوَالِهَا وَأَلْبَانِهَا ، فَانْطَلَقُوا ، فَلَمَّا صَحُّوا قَتَلُوا رَاعِىَ النَّبِىِّ – صلى الله عليه وسلم – وَاسْتَاقُوا النَّعَمَ ، فَجَاءَ الْخَبَرُ فِى أَوَّلِ النَّهَارِ ، فَبَعَثَ فِى آثَارِهِمْ ، فَلَمَّا ارْتَفَعَ النَّهَارُ جِىءَ بِهِمْ ، فَأَمَرَ فَقَطَعَ أَيْدِيَهُمْ وَأَرْجُلَهُمْ ، وَسُمِرَتْ أَعْيُنُهُمْ ، وَأُلْقُوا فِى الْحَرَّةِ يَسْتَسْقُونَ فَلاَ يُسْقَوْنَ . قَالَ أَبُو قِلاَبَةَ فَهَؤُلاَءِ سَرَقُوا وَقَتَلُوا وَكَفَرُوا بَعْدَ إِيمَانِهِمْ ، وَحَارَبُوا اللَّهَ وَرَسُولَهُ .

“Dari Anas RA bahwa orang-orang dari suku ‘Urainah tidak betah tinggal di Madinah, maka Rasulullah SAW memberi keringanan (rukhshoh) kepada mereka untuk mendatangi onta sedekah (zakat), lalu mereka minum susunya dan air kencingnya (untuk obat sakit panas, ini menunjukkan air kencing onta tidak najis), lalu mereka membunuh penggembala dan melarikan onta. Maka Rasulullah SAW mengutus (utusan untuk mengejar mereka), lalu (utusan Nabi) mendatangi mereka, lalu (utusan Nabi) memotong tangan dan kaki mereka, dan mereka dicongkel matanya, dan ditinggalkan di daerah bebatuan, mereka menggigit batu (dalam keadaan sangat sengsara, menderita berat).” (hadits shohih Riwayat Imam Al-Bukhari, nomor 1501 bab menggunakan onta zakat dan susunya untuk ibnu sabil, dan nomor 233 kitab thoharoh).

Membunuh penggembala dan melarikan onta adalah kejahatan fisik. Sedang menghina Islam, memutarbalikkan pengertian ayat-ayat dan Hadits atas nama Islam padahal demi Kristen adalah jauh lebih jahat ketimbang kejahatan fisik perampok dan pembunuh itu. Sedangkan perampok dan pembunuh itu tadi dibalas dengan pembunuhan pelan-pelan, yaitu tangan mereka dipotong, kaki mereka pun dipotong, sedang matanya pun dicongkel, lalu mereka ditinggalkan di padang bebatuan yang kemungkinan panas terik membakar otak hingga bisa terkena hitstruk, yaitu struk karena sengatan mata hari, dalam keadaan tiada air dan makanan lagi. Lantas, hukuman apa yang pantas bagi perampok-perampok agama yang dilakukan oleh orang-orang Nasrani, palangis dengan cara memutarbalikkan ajaran Islam dan menghina nabi SAW itu?

Ramai-ramai menghancurkan Islam

Kristenisasi, Orientalisme, dan Penjajahan telah menjadi satu adonan tiga serangkai yang tidak terpisahkan. Masing-masing mempunyai tugas untuk menghancurkan Islam.

Kristenisasi bertugas merusak aqidah; Orientalisme memporak- porandakan pemikiran Islam; dan Penjajahan melumpuhkan ummat Islam.

Allah SWT memperingatkan dalam Al-Quran,

يُرِيدُونَ أَنْ يُطْفِئُوا نُورَ اللَّهِ بِأَفْوَاهِهِمْ وَيَأْبَى اللَّهُ إِلَّا أَنْ يُتِمَّ نُورَهُ وَلَوْ كَرِهَ الْكَافِرُونَ [التوبة/32]

yang artinya: “Mereka berkehendak memadamkan cahaya (agama) Allah dengan mulut (ucapan) mereka, dan Allah tidak menghendaki selain menyempurnakan cahayaNya, walaupun orang-orang yang kafir tidak menyukai.” (QS. At-Taubah [9] : 32)

Tujuan utama missionaris zending adalah menyeret orang-orang Islam ke Kristen. Jika hal itu sulit dilakukan, maka akan dtempuh dengan upaya bagaimana cara mengaburkan pengertian Islam bagi muslimin.

Segi politik, missionaris bertindak sebagai antek-antek dan mata-mata penjajah Eropa demi merusak kesatuan Islam. Tujuan itu diperjelas oleh Pendeta Simon bahwa missionaris adalah faktor penting sebagai penghancur kekuatan persatuan Ummat Islam.

Negara yang pertama kali mengembangkan kristenisasi adalah Belanda, yang pernah menjajah Indonesia dan memecah Jawa menjadi kawasan-kawasan yang dibangun untuk gereja dan sekolahan. Kemudian langkah tersebut diikuti oleh negara Eropa lainnya.

Musuh-musuh Islam sangat memperhitungkan kekuatan Islam, melihat pengikut yang demikian cepat bertambah banyak, maka musuh-musuh Islam sangat khawatir. Musuh Islam sangat khawatir kalau ummat Islam menjadi satu di bawah satu kesatuan bendera untuk menuju cita-cita Islam, akan menjadi momok bagi dunia. Hingga sejak menjelang Perang Dunia Kedua, musuh-musuh Islam telah mengkhawatirkan makin bertambahnya penduduk di negera-negara Islam terutama Mesir. Apabila selama 50 tahun tidak dicegah pertumbuhan penduduknya, maka dunia akan dikuasai oleh orang Islam, tulis Paul Schmitz, orang Jerman, dalam bukunya Islam Kekuatan Internasional Esok, 1937. Padahal saat itu ummat Islam sedunia masih di bawah penjajahan, negera-negara Islam belum merdeka. Namun peringatan agar pertambahan penduduk Muslim dicegah sekuat tenaga karena menjadi ancaman bagi mereka (musuh Islam) itu sudah digemakan. Dan kemudian, ketika negara-negara Islam merdeka, musuh-musuh Islam itu mampu menekan dan mempengaruhi negara-negara Islam untuk menekan pendudunya bahkan memaksa agar melaksanakan keluarga berencana (KB), yang pada hakekatnya adalah pembatasan keluarga, yang hal itu jelas haram menurut Islam. Misi kristenisasi dan penjajahan bertemu di situ, demi melemahkan Islam, memperkecil jumlah ummat Islam. Sehingga walaupun orang- orang Nasrani berteriak lantang bahwa pihak mereka melarang umatnya mengikuti KB (keluarga berencana) pun tak diapa-apakan, bahkan terhadap keturunan Cina, kalau di Indonesia tidak disentuh aturan KB. Karena sasaran utamanya hanyalah mencegah pertumbuhan penduduk Muslim, bukan lainnya.

Missionaris, orientalis, dan imperialis bergerak bersama-sama dalam menghancurkan ummat Islam dan memurtadkannya, dengan dalih misi suci, padahal sebenarnya palsu. Yaitu mereka berdalih dengan Injil Matius fasal 28 ayat 18, yang isinya menyuruh pergi ke seluruh bumi untuk menyebarkan ajaran Yesus. Padahal, ayat itu hanya dari Maria Magdalena, yang dia sendiri dalam Injil Matius fasal 8 ayat 2 dijelaskan bahwa Maria Magdalena itu adalah perempuan yang sakit, kemasukan tujuh setan.

Ayat yang sumbernya hanya Maria Magdalena itu sendiri bertentangan dengan ayat lain yang justru dikatakan oleh Isa (Yesus) sendiri di hadapan 12 pengikut setianya bahwa kalian jangan masuk ke negeri kafir mana-mana kecuali negeri Bani Israel. Jadi jelas, diutusnya Isa itu hanya untuk kaum Bani Israel.

Itu tercantum pula dalam al-Quran

وَيُعَلِّمُهُ الْكِتَابَ وَالْحِكْمَةَ وَالتَّوْرَاةَ وَالْإِنْجِيلَ (48) وَرَسُولًا إِلَى بَنِي إِسْرَائِيلَ أَنِّي قَدْ جِئْتُكُمْ بِآَيَةٍ مِنْ رَبِّكُمْ [آل عمران/48، 49]

yang artinya: Dan Allah akan mengajarkan kepadanya (Isa AS) Al-Kitab, Hik mah, Taurat, dan Injil. Dan (sebagai) rasul kepada Bani Israel (yang berkata kepada mereka): “Sesungguhnya aku telah datang kepada kalian dengan membawa suatu tanda (mu’jizat) dari Tuhanmu…” (QS. Ali Imran [3] : 48-49)

Meskipun sudah jelas —dari Injil dan Al-Quran— bahwa Isa itu diutus hanya untuk kaum Bani Israel, namun orang Nasrani yang diwakili oleh para missionaris plus orientalis dan imperialis tetap ngotot mengadakan kristenisasi ke negara-negara Islam jajahan. Lantas antek-antek penjajah yang di Indonesia sering disebut Londo Ireng (Belanda hitam) pun ikut-ikutan ngotot melancarkan kristenisasi. Jadi mereka itu lebih mempercayai Maria Magdalena, perempuan yang dalam Injil Matius fasal 8 ayat 2 dise but sakit dan kemasukan tujuh setan itu daripada mempercayai ucapan Yesus sendiri di depan 12 pengikut setianya (kalau dalam istilah Al-Quran disebut hawaariyyuun alias pengikut setia Nabi Isa AS, seperti halnya pengikut setia yang menyertai Nabi Muham mad SAW disebut sahabat Nabi SAW).

Menolak tandatangani pernyataan bersama

Keteguhan mengikuti ucapan Maria Magdalena wanita kemasukan tujuh setan itupun mereka bawa-bawa, sehingga mereka menolak menandatangani rumusan pernyataan bersama dalam Musyawarah Antar Agama, Kamis 30 November 1967. Pihak Kristen/ Katolik tidak menyetujui klausul yang antara lain “…..tidak menjadikan ummat telah beragama sebagai sasaran penyebaran agama masing-masing”. Padahal tokoh-tokoh agama Islam, Hindu Bali, dan Budha menyetujui hal itu. Namun pihak Kriten dan Katolik tetap ngotot tak menyetujui, dengan alasan Injil Matius fasal 28 ayat 18 yang hanya perkataan Maria Magdalena yang dijelasakan dalam Matius fs 8 ayat 2 bahwa ia adalah perempuan sakit kemasukan 7 setan itu.

Memperkosa dan memurtadkan

Tidak mengherankan apabila kemudian kristenisasi itu dilakukan dengan cara memperkosa wanita seperti yang terjadi di Padang. Khairiyah Enniswati alias Wawah (17) pelajar Madrasah Aliyah Negeri (MAN) 2, Gunung Pangilun Padang adalah korban perkosaan dan pemurtadan. Ia termasuk 500 orang Minang (Sumatera Barat) yang dimurtadkan dari Islam ke Kristen, menurut koran Republika. Gadis berjilbab itu diculik, diperkosa, dan dipaksa keluar dari agamanya lewat misi rahasia yang dijalankan sekelompok orang Kristen.

Peristiwanya berawal dari Maret 1998. Suatu hari, Wawah berke nalan dengan Lia, seorang gadis berjilbab. Keakraban pun terjadi karena sama-sama berjilbab. Namun ternyata Lia penganut Kristen Priotestan. Kepada Wawah, ia bercerita betapa indahnya berkelana dalam dunia Protestan. Tak hanya itu, ia juga berkisah tentang dunia seks.

Pada kesempatan lain, Lia mengajak Wawah berkeliling kota dan singgah di Gereja Protestan di Jl Bagindo Aziz Chan, Padang. Di sini, keduanya berbaur dengan puluhan jemaah pimpinan Pendeta Willy.

Singkat cerita, Wawah dipaksa masuk Kristen, kendati gadis ini menangis dan meronta. Selanjutnya Wawah diserahkan kepada Salmon, seorang Jemaat Gereja yang bekerja di PDAM Padang. Di rumah keluarga Salmon itulah, Wawah juga diperkosa saat Lisa Zuriana, istri Salmon keluar rumah. Lisa Zuriana sendiri adalah warga Tangah Sawah, Bukit Tinggi, asli Minangkabau yang kini memeluk Kristen setelah kawin dengan Salmon. Ia juga bendahara Persatuan Kristen Protestan Sumatera Barat (PKPSB). (Dialog Jum’at, Republika, 6 Agusus 1999).

Pentingnya jihad

Di sinilah pentingnya seruan jihad dalam Islam yang nilainya sangat tinggi itu. Karena, secara internasional maupun nasional, tidak lain sasaran penghinaan dan pemurtadan adalah ummat Islam.

Padahal, mereka itu secara teori (landasan kristenisasi itu) adalah perkataan wanita kesetanan (kemasukan 7 setan) (lihat Matius fasal 28 ayat 18 dan fasal 8 ayat 2). Dan secara praktek, jelas kriminal, bahkan sampai memperkosa wanita.

Di zaman Nabi SAW, ada orang yang baru menawar untuk dibolehkan meniduri perempuan tempat ia menginap saja, karena mengatas namakan adanya kebolehan (berzina) dari Nabi SAW maka kemudian Nabi SAW menyuruh membunuhnya. Dan ketika ia (penipu dan penghina Islam itu) kedapatan telah mati karena digigit ular, lalu lelaki yang menawar berzina (tidak sampai memperkosa) itu kemudian dibakar oleh sahabat utusan Nabi SAW. Lantas, kalau sudah memperkosa masih pula memurtadkan, apakah hukumannya? Dan kaum Salibis, para penyusun buku dan slebaran yang mengatas namakan Islam padahal membohongkan Islam dan bahkan demi pemurtadan agar masuk Kristen, itu hukuman apa yang layak bagi mereka? Mari dibahas dan diaplikasikan, kalau memang kita benar-benar sebagai pengawal agama Islam yang diridhoi Allah SWT ini. (Lihat buku-buku: H Insan LS Mokoginta, Pendeta Menghujat Muallaf Meralat, 1999. Ahmed Deedat, The Choice, 1999. Buku-buku KH Abdullah Wasi’an, buku-buku M Natsir di antaranya Islam dan Kristen di Indonesia).

*Hartono Ahmad Jaiz penulis buku Lingkar Pembodohan dan Penyesatan terhadap Ummat Islam insya Allah beredar di IBF (Islamic Book Fair) di Istora Senayan Jakarta, 4-13 Maret 2011.

Filed under: - - - dari eramuslim.com |